Selasa, 07 Mei 2013

Cinta dan Komitmen


Setiap orang berhak untuk mencintai maupun dicintai. Bahkan, setiap orang pasti pernah merasakan cinta, dan mungkin tak hanya sekali mengalaminya. Entah itu mencintai, ataupun dicintai. Namun, untuk menjalin sebuah hubungan antara dua makhluk berlainan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, tak hanya mengandalkan sesuatu yang bernama cinta itu.
Lalu apakah sebenarnya cinta itu? Menurut saya, cinta adalah hasil sampingan dari perasaan, sama halnya dengan rasa suka, benci, kecewa, sayang, dan sebagainya. Namun, kita selalu memberi porsi lebih untuk cinta, sehingga kadang cinta bisa membuat kita tersenyum sepanjang siang atau malah memandang resah gelap malam.
Yang namanya perasaan itu bisa berubah-ubah sepanjang waktu. Mungkin hari ini saya suka dengan lagu-lagu dari ERK, namun esok lusa boleh jadi sudah bosan dan berganti dengan lagu-lagu yang lain. Sama halnya dengan cinta, kalau tidak berhati-hati cinta akan bernasib sama dengan rasa suka saya akan lagu-lagu.
Bisa dibayangkan jika sepasang muda-mudi menjalin sebuah hubungan hanya bermodalkan rasa cinta. Mungkin hari ini alangkah bahagianya mereka dengan hari-hari mereka. Lalu bagaimanakah dengan satu, dua, atau tiga tahun lagi??
Saya kira untuk menjalin hubungan tak cukup hanya bermodalkan cinta. Perlu sesuatu yang lain yang bisa terus mengikat mereka. Ialah komitmen. Komitmen akan hubungan mereka, maupun komitmen akan diri mereka masing-masing. Komitmen inilah yang mengikat dua jiwa yang saling mencintai dan saling dicintai.
Komitmen disini kadang disalah artikan oleh beberapa pihak. Komitmen bukan hanya memikirkan rencana kedepan hubungan mereka, namun juga memikirkan apa yang terjadi hari. Komitmen juga menuntut kerja-kerja untuk menwujudkan harapan hubungan mereka. Kerja-kerja inilah yang disebut tanggung jawab. Komitmen tanpa rasa tanggung jawab adalah kekosongan semata.
Seseorang mungkin sudah sangat siap untuk mencintai, namun kesiapan mencintai ini belum tentu berbanding lurus dengan kesiapannya untuk berkomitmen. Cinta yang tanpa komitmen tak bisa mewujud menjadi sebuah ikatan yang kuat. Apabila dipaksakan, ia hanya akan saling menghancurkan.
Saya punya seorang teman. Ia dicintai oleh seorang perempuan, dan ia juga mencintai -mungkin- perempuan tersebut, tapi ia sama sekali belum memiliki komitmen. Namun, salahnya adalah ia selalu memberi harapan kepada perempuan itu. Harapan tanpa komitmen hanya akan menjadi harapan kosong. Lihatlah sekarang, mereka berdua saling mencintai, tapi dengan belum adanya komitmen, mereka hanya akan saling menyakiti.
Saya rasa yang namanya jodoh itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Suatu saat, ia -jodoh kita masing-masing- akan datang dengan sendirinya lewat bimbingan Tuhan, mungkin lewat cara yang tak pernah bisa dibayangkan oleh akal manusia.
Biar saya bercerita tentang kisah cinta dari masa lalu, kisah cinta klasik antara seorang pria dan seorang perempuan. Sebuah cinta sejati.
Adalah seorang pria, biasa-biasa saja. Tidak begitu tampan, tapi tak jelek-jelek amat juga. Kurus dan tinggi dengan rambut yang ikal. Wajahnya khas wajah anak desa, karena ia memang lahir dan besar di sebuah desa terpencil di daerah jawa tengah. Ia pendiam dan pemalu. Ia anak tertua dari tiga bersaudara dikeluarganya. Keluarga yang sangat sederhana.
Adalah seorang perempuan, biasa-biasa saja. Tidak begitu cantik, tapi tak jelek-jelek amat juga. Kecil dengan rambut yang tergerai lurus. Wajahnya manis, khas daerah pedesaan, karena ia memang lahir dan besar di sebuah desa terpencil di daerah jawa tengah. Ia cerewet dan supel, pokoknya enak di ajak ngobrol. Ia anak tertua dari tiga bersaudara dikeluarganya. Keluarga yang sangat-sangat sederhana dengan semua keterbasannya.
Dua remaja ini tumbuh di daerah yang sama, cukup berdekatan untuk ukuran desa, tapi mungkin jauh untuk ukuran kota. Kalian tahu lah ukuran dekat yang pas untuk daerah kota dengan semua keindividualisannya. mereka tumbuh dan berkembang pada waktu dan lingkungan yang berbeda. Ya, mereka berselisih umur enam tahun dan keluarga mereka jelas-jelas sangat berbeda.
Si pria tadi tumbuh bersama keluarga yang sederhana, namun dengan keadaan yang sangat baik. Meskipun ia harus tinggal dengan kakek dan neneknya karena ayah dan ibunya sekali mengurusi adik-adiknya yang masih hanya terpaut satu dan dua tahun darinya. Namun kalian tahu siapa kekenya? Ia adalah tokoh yang sangat berpengaruh di desanya. Siapa yang tidak tahu kakek si pria kita ini. Kalian tahulah, seorang tokoh masyarakat pastinya sangat dihargai oleh masyarakatnya. Karena seorang tokoh masyarakat pastilah memiliki pemahaman-pemahaman baik hingga ia sangat disegani oleh masyarakatnya. Maka pria kita ini tumbuh di lingkungan keluarga yang mungkin bisa dibilang lebih dibanding anak-anak lain didesanya, tapi tetap dengan kesederhanaan desa tentunya. Namun meskipun harus berpisah dengan ayah ibunya, ia tak penah kekurangan kasih sayang, karena ayah dan ibunya tak pernah lupa akan hal ini, belum lagi kakek dan neneknya. Maka berlebih kasih sayanglah pria kita ini.
Lalu bagaimana dengan perempuan kita ini? Ia juga tinggal dengan kakek dan neneknya, sama halnya dengan si pria. Lalu apa bedanya? Ah, sabar sebentar kawan, biar saya ceritakan detailnya. Perempuan kita ini datang dari keluarga yang sangat sederhana -miskin-, ia harus tinggal dengan kakek dan neneknya karena ayah ibunya repot sekali harus mengurus adik-adiknya. Dengan keadaan yang pas-pasan, mana sanggup mereka membesarkan tiga anak yang masih sangat kecil-kecil sekaligus. Maka perempuan kita ini hidup dengan keluarga kakek dan neneknya yang mungkin sedikit lebih baik keadaan ayah dan ibunya.
waktu berlalu, berputar dalam putaran yang sama. Menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, terus berulang seperti itu. Namun takdir masih juga belum berbaik hati mempertemukan mereka.
Si pria berhasil naik kelas ke kelas 2 sma ketika si perempuan baru akan masuk SMP. Jaman dahulu, perbedaan umur tidak bisa menjadi ukuran perbedaan kelas di sekolah. Bahkan kalau boleh saya kasih bocoran, ada yang baru masuk SD pada umur belasan tahun kawan. Bisa kita bayangkan betapa anehnya siswa-siswa kelas satu di SD-SD jaman dahulu. Namun kita tak akan membahas itu kawan, yang akan saya bahas adalah pria dan perempuan kita ini. Rupa-rupanya waktu sudah berbaik hati mempertemukan mereka kawan. Perempuan kita ini ternyata menjadi teman sekelas dan bahkan menjadi teman akrab adik laki-laki pria kita ini. Kita bisa melihat bagaimana jalan takdir dengan kekuatan misteriusnya telah menjalin kisah yang sungguh boleh jadi adalah kisah cinta sejati.
Yang namanya teman akrab sudah pasti sering main bersama, begitu pula dengan perempuan kita ini. Perempuan kita ini sering sekali main kerumah si pria. Hey, bukan untuk bertemu pria kita kawan, tapi untuk berkumpul bersama teman-temannya, karena rumah si pria kita ini juga rumah adik laki-lakinya juga bukan. Jadilah si pria kita ini sering melihat si perempuan begitu pula sebaliknya. Kenal akrab? Ah, masih jauh kawan, mereka berdua hanya sebatas menyapa tahu nama.
Namun, lama kelamaan benih-benih cinta itu mulai muncul kawan. Seperti bunga-bunga yang bermekaran di taman. Indah. Namun sayang seribu sayang, perasaan itu hanya tumbuh subur di hati si pria kawan. Cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan untuk. Perempuan kita ini hanya menganggap si pria kita sebagai kenalan dan sebatas tahu. Seperti yang sudah saya katakan sebelumya, perempuan ini cerewet dan supel sekali. Ia baik dan akrab dengan siapa saja. Celakanya, sikap inilah yang membuat pria kita jatuh hati.
Kalian tahu? Ternyata yang namanya cinta itu dari generasi ke generasi ternyata sama saja -Cinta disini berbeda dengan nafsu kawan-. Mungkin yang membedakan generasi satu ke generasi lainnya hanya medianya saja. Jaman dahulu mungkin cukup bertukar kabar menggunakan surat. Berbagi cerita dan mungkin kadang norak lewat tinta yang tersusun rapi pada selembar kertas. Meskipun terkadang surat hari ini baru bisa sampai ke tujuan dua atau tiga hari lagi, tapi yang namanya cinta itu tak mengenal kata basi. Selalu saja menarik untuk dibagi bersama pujaan hati. Dimasa modern ini, surat telah digantikan dengan fungsi handphone. Lihatlah, pesan bisa terkirim lewat hitungan detik. Bahkan kita bisa berbincang secara leluasa dengan seseorang lain yang berada entah dimana. Rasanya perbedaan jarak sudah tak lagi berpengaruh pada kehidupan muda mudi dijaman sekarana ini. Dan sekarang bahkan sudah lebih canggih lagi dibanding sepuluh tahun yang lalu, lihatlah facebook, twitter, wats up, dan berbagai ubersosial dan software yang ada. Entah apalagi yang bisa diciptakan orang-orang canggih dimassa datang untuk membantu kehidupan cinta muda-mudi, saya sudah tidak bisa membayangkannya.
Sama halnya dengan pecinta di jaman sekarang, di jaman dahulu cinta juga bisa menjadikan orang-orang yang jatuh cinta menjadi sangat egois. Hal-hal yang seharusnya bisa dilihat dari banyak sisi, ia dengan teganya hanya membenarkan hal yang disampaikan hatinya. Padahal, yang namanya hati itu terkadang kalau kita tak bisa mengontrolnya malah akan menjebak kita. Ketika kita membiarkan hati merangkai semua kejadian disekitar dan menghubungkannya dengan banyak hal hanya untuk menyenangkan hati, maka lama-kelamaan kita akan terjebak dan tak lagi mampu membedakan mana yang nyata, dan mana yang hanya khayalan belaka. Pria kita ini juga begitu. Padahal perempuan ini, karena memang sifatnya yang supel dan mudah akrab dengan siapa saja, hanya menganggap si pria sebagai kenalan. Ia menghormatinya hanya karena ia sebagai kakak dari sahabatnya. Menyapa sama seperti ia menyapa semua orang yang dikenalnya. Bercerita dan tertawa sama seperti yang ia lakukan bersama teman-teman dan sahabatnya. Namun si pria ini sudah terlanjur membiarkan hatinya berharap, hingga hatinya bebas merangkaikan semua kejadian untuk menyenangkan harapannya. Kesalahan yang amat fatal.
Jadilah si pria kita ini terkadang salah dalam mengartikan maksud dari si perempuan. Beberapa hal yang seharusnya biasa saja jika kita memandangnya dari sisi yang normal menjadi luar biasa ketika dipahami oleh pria kita ini. Namun, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Pria kita ini adalah seorang pemalu kawan. Maka apa yang ia lakukan hanya sebatas menyapa. Lebih banyak lagi curi-curi pandang, sibuk mencari perhatian si perempuan lewat hal-hal norak yang mungkin buat kalian yang pernah jatuh cinta, pernah melakukannya sendiri di kehidupan kalian. Ia sibuk untuk membenarkan isyarat-isyarat dari si perempuan yang sebenarnya biasa saja untuk menyenangkan hatinya. Hanya sebatas itu kawan. Mungkin yang paling berani adalah saat ia menitipkan salam untuk si perempuan lewat teman si perempuan tadi, namun teganya temannya tadi tak pernah menyampaikan salam tersebut. Bagaimana tidak, hal-hal norak dari para pecinta ini jika dinalar dengan pikiran yang jernih sungguh benar-benar menjengkelkan. Tinggal bilang sendiri salam tersebut, semua selesai, beres. Tak usah repot-repot menitipkan salam kesiapalah, apalagi yang lebih tidak logis lagi, menitipkan salam lewat angin malam, lewat cahaya senja, atau apapun itu yang berada diluar logika. Jadilah si pria ini selalu menunggu-nunggu dengan cemas, membiarkan kesibukan hatinya ini mengalihkannya dari kesibukan fisik yang justru jauh lebih bermanfaat.
Namun seiring berjalannya waktu, si pria kita ini telah belajar banyak hal. Seperti apalah kata bijak itu, bersabarlah, maka waktu akan mengajarimu banyak hal. Ya, pria kita ini, karena sifat pemalunya yang memaksa ia untuk selalu bersabar, akhirnya waktu berbaik hati untuk mengajarinya tentang pemahaman-pemahan baik itu. Ia sadar, tak selamanya ia bersikap seperti itu. Dan ia kadang tertawa sendiri akan hal-hal apa yang sudah dilakukannya. Ada banyak hal dalam hidupnya yang harus ia ubah. Ia telah lulus dari SMA, dan ada banyak hal yang harus ia persiapkan. Karena menurutnya cinta saja tak akan cukup untuk menjalin hubungan, perlu sesuatu yang lain selain cinta untuk mengikat seorang pria dan wanita. Saya kali ini setuju dengan pendapatnya. Sesuatu itulah yang namanya komitmen. Komitmen ini menuntut dirinya untuk mempersiapkan diri hingga ia bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, baik materi maupun kedewasaannya.
Maka ia memutuskan untuk berusaha mengontrol hatinya, menunda perasaan cintanya. Maka ia menyibukan dirinya dengan hal-hal baik untuk tak membiarkan hatinya sibuk berharap. Ia bekerja di sebuah proyek pengairan untuk menyibukan diri selain juga untuk menimba pengalaman dan ilmu sebanyak banyaknya. Setelah dirasa cukup belajar, ia kemudian kembali berpetualang kekota Bandung. Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Menyiapkan materi dan pribadi menjadi jauh lebih baik lagi. Sambil menunggu kesempatan itu datang, ia menyibukan dirinya dengan hal-hal baik yang akan mengajarinya banyak hal.
Waktu yang ditunggunyapun tiba, kesempatan itu telah datang, ia memutuskan untuk kembali pulang ke desanya. Menata hidupnya dengan baik di desa, di kehidupan yang sederhana. Dan ketika semua persiapannya telah cukup, ia telah punya sedikit petak sawah dan rumah, maka ia dengan jantan mendatangi seperumpuan. Melamarnya. Ya, kini si pria inni sudah berubah dari seorang lelaki pemalu menjadi jauh lebih dewasa, lihat lah, ia sudah berani mendatangi seorang perempuan. Bukan untuk berbual bilang cinta seperti yang kalian lakukan, tpi untuk melamar. Sungguh manis sekali kawan.
Lalu bagai mana dengan perempuan kita kawan? Ia juga sudah berubah, bukan lagi sebagai perempuan ingusan yang dikepang dua seperti waktu SMP. Ia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang canti dengan rambutnya yang tergerai. Dan yang lebih menajubkan lagi tentu kecantikan hatinya. Selama ini, seperti si pria tadi, ia mengisi proses menunggunya dengan melakukan hal-hal baik untuk memperbaiki diri lewat pengalaman-pengalaman tentunya. Dan takdir berbaik hati untuk mengajarinya banyak hal lewat cobaan-cobaan yang justru terkadang kalian kutuki. Lihatlah, kehidupan keluarganya tidak berubah dari dulu, masih sangat sederhana. Ayah nya harus bekerja di jakarta untuk mengadu nasib, pun sama dengan ibunya yang menjadi TKW di luar negeri, bahkan sebelum pekerjaan itu tenar dikalangan masyarakat desa. Dan yang lebih menyakitkan lagi, adiknya yang terakhir mengalami stres karena beban hidup yang seperti itu. Namun, perempuan kita ini justru menjadikan semua cobaan itu untuk menempa dirinya menjadi sesuatu yang lebih berharga lagi. Seperti sebuah intan yang ditempa oleh tekanan dan suhu yang tinggi. Ia benar-benar mengisi proses menunggunnya dengan sesuatu hal yang sungguh bermanfaat.
Akhirnya waktu telah menguakan rahasianya. Kesempatan itu apun akhirnya datang. Maka ia tak kuasa menolak, bagaimana mungkin ia kuasa menolak seorang pria dewasa dengan segala kematangannya. Dan urusan cinta itu sama dengan bentuk perasaan lainnya seperti suka, senang, kecewa, benci, dan yang lainnya. Ketika ia membuka hati dan pemahamannya, maka cinta akan bermekaran dengan indahnya.
Takdir telah menjawab kesabaran mereka. Kesabaran yang tak hanya menunggu berpangku tangan, tapi menunggu yang di isi oleh proses-proses berkualitas. Mereka telah menuai janji bahwa setiap manusia itu diciptakan berpasang-pasangan. Setiap orang pasti punya jodohnya sendiri-sendiri, dan takdir akan menguakan rahasianya. Kalau mungkin ada pria atau perempuan yang hingga kakek atau nenek belum bertemu juga dengan jodohnya, maka sebenarnya Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih berharga dibandinhkan urusan dunia. Karena Dia tahu yang terbaik untuk hamba-hambanya. Dan sekali lagi Tuham telah menunjukan kekuasaanNya lewat kisah pria dan perempuan kita ini.
Hingga kini, pasangan pria dan prempuan kita ini masih tetap mesra dan romantis memadu cinta. Mereka dikaruniai tiga orang anak, bahkan Tuhan berbaik hati memberikan sepasang anak kembar untuk anak pertama dan kedua mereka. Mereka selalu menularkan pengertian cinta mereka kepada anak-anaknya, serta lingkungan sekitarnya. Dan saya benar-benar bangga bisa mengemas kisah mereka pada berderet-deret kalimat pada tulisan saya ini. Lebih bangga lagi karena saya adalah bagian dari kehidupan mereka, saya adalah salah satu dari anak kembar mereka.
Untuk setiap pecinta di muka bumi ini. Bersabarlah menunggu kesempatan luar biasa itu datang. Mengisinya lewat proses-proses hebat, memperbaiki diri, dan meraup sebanyak-banyaknya pemahaman baik disekitar kita. Untuk para perempuan, jangan samapai kalian termakan rayuan gombal seorang pemuda yang hanya bisa menyakitimu lewat cinta-cinta mereka. Tunggulah ketika pemuda gagah itu datang membawa cinta yagn telah diikat dengan komitmen dan pemaham baik. Dan untuk setiap pria, mari kita bersama-sama belomba memperbaiki diri, meraup pemahan baik sebanyak-banyaknya. Mempersiapkan sesuatu yang bernama komitmen. Menunggu kesempatan itu datang.

Kamis, 02 Mei 2013

Jalur Pendakian G. Merbabu Via Selo


Basecamp merbabu via selo terdapat pada Dk Genteng, Desa Tarubatang.

Basecamp - Pos I
Pendakian dimulai dari gerbang Taman Nasional Gunung Merbabu yang berjarak 50 meter dari basecamp. Di sekitar gerbang terdapat camping ground. Pada jarak 800 meter dari pintu masuk jalur pendakian akan ditemui sebuah persimpangan. Jalur kiri (tanjakan) merupakan jalur pendakian, sedangkan jalur kanan (jalur menurun) adalah jalur menuju daerah jurang warung yang dapat digunakan sebagai lokasi birdwatching. Untuk mencapai Pos I kita dimanjakan dengan hutan pinus dan jalur yang landai. Jalur pendakian cukup landai, namun akan banyak dijumpai pertigaan, maupun perempatan jalur yang menuju ke perkampungan penduduk, maupun jalur penduduk mencari kayu bakar dan rumput, untuk itu tetap pilih jalur yang paling lebar. Berjalan sekitar satu jam akan sampai di Mpitian yang berupa perempatan jalur.

Pos I - Pos II
pelataran Pos I cukup luas, bisa mendirikan 3-4 tenda. Setelah itu jalanan mulus penuh bonus, landai bertanah. Pos I dapat ditempuh selama 1 jam dari basecamp. Pos yang berupa sebidang tanah ini berada pada ketinggian ± 2190 m dan masih berada pada zona hutan gunung sehingga tidak ada pemandangan. Pos I umumnya digunakan untuk tempat berisitirahat sejenak. Selepas Pos I ada percabangan jalur lama (kiri) yang langsung menuju Pos III dan jalur baru (lurus). Dari Mpitian masih agak landai melintasi hutan akan berjumpa dengan sungai kering yang berisi pasir. Setelah menyeberangi sungai kering jalur mulai agak menanjak namun masih melintasi hutan. Setelah berjalan sekitar satu jam dari sungai kering ini jalur terjal sekali meliuk mendaki bukit dan sampailah kita di tikungan macan. Pada Tikungan Macan, elevasinya hampir mencapai 45 derajat, dengan jalur tanah rentan longsor. Selain kita juga menapakkan kaki di 3 batang pohon horizontal tertata rapi untuk melewati sebuah jurang. Di Tikungan Macan ini kita bisa memandang ke bawah ke arah jurang yang masih diselimuti hutan yang lebat. Di tikungan Macan ini pendaki yang turun bisa kesasar karena jalur yang sebenarnya berada disisi samping bukan lurus ke bawah. Kemudian berlanjut ke Pos III (Batu Tulis)

Pos II - Pos III
Perjalanan dari Pos II menuju Pos III, kita dimanjakan oleh perbukitan yang ditumbuhi Bunga Abadi dengan liarnya. Dari Tikungan Macan jalur mulai sedikit terbuka, namun masih melintasi hutan yang sudah tidak terlalu lebat lagi. Jalur mulai menanjak, setengah jam berikutnya jalur mulai agak sulit dan semakin terjal. Sekitar satu jam dari Tikungan Macan pendaki akan sampai di Batu Tulis. Batu Tulis adalah tempat terbuka yang cukup luas, di tengahnya terdapat sebuah batu yang cukup besar. Pos III berada pada ketinggian 2590 mdpl. Pemandangan indah di sekitar Batu Tulis bisa menjadi pengobat lelah. Banyak terdapat Edelweiss yang tumbuh tinggi dan besar sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Pendaki yang turun Gn.Merbabu, di Batu Tulis ini terdapat juga jalur alternatif yang kelihatan sangat jelas namun sedikit mendaki bukit. Jalurnya berbahaya melintasi punggungan yang sempit dengan sisi jurang di kira dan kanan, sebaiknya tidak melewati jalur ini, tetaplah mengikuti jalur yang resmi. Pemandangan dari pos III cukup lapang dan dapat melihat merapi di seberangnya. 200 meter dari pos III dapat dijumpai sebuah nisan memoriam alm. Heri Susanto, seorang pendaki asal Surabaya yang mengalami kecelakan pendakian pada tahun 1997.

Pos III - Sabana I & Sabana II
Dari Batu Tulis medan mulai terbuka berupa padang rumput yang sangat terjal dan berdebu. Bila di musim hujan jalur ini licin sekali sehingga perlu perjuangan sangat keras untuk merangkak ke bergerak ke atas. Puncak Gunung Merbabu masih belum kelihatan, pendaki masih harus melewati empat buah bukit yang terjal untuk sampai di puncak Gunung Merbabu. Perjalanan dilanjutkan menuju Sabana I dan Sabana II, keduanya merupakan kawasan luas berumput, dan vegetasi lainnya khas sabana, mirip dengan taman teletubies, hijau berbukit-bukit. Sabana I berada pada ketinggian ±2770 mdpl sedangkan sabana II terletak pada ketinggian ±2860 mdpl. Sabana I dan sabana II dipisahkan oleh sebuah bukit. Ekosistem sabana ini didominasi oleh rumput bubarjaran. Kedua lokasi ini sering dijadikan sebagai tempat berkemah para pendaki. Namun disarankan untuk membangun tenda setelah dari Sabana II, mencari lahan yang dilindungi edelweis.

Jemblongan
Sedikit naik bukit dan kemudian turun lagi pendaki akan sampai di Jemblongan yakni sebuah tempat yang banyak di tumbuhi Edelweiis dalam ukuran besar dan rapat sehingga sehingga membentuk hutan yang rindang. Jemblongan berada kurang lebih 100 meter dari sabana II. tempat ini merupakan tempat berkemah alternative. Berada di tengah tengah pepohonan, tempat ini menjadi tempat yang nyaman untuk berkemah karena terlindung dari angin dan cukup dekat dengan puncak (± I jam perjalanan). Membangun tenda dome tepat dibawah pohon-pohon Edelweis yang tinggi. Selain aman, saat pagi datang kita akan dimanjakan dengan indahnya Gunung Merapi yang gagah berdiri.

Menuju Puncak Merbabu
Setelah berjalan sekitar 1 jam akan tampak puncak Gunung Merbabu. Pemandangan yang sangat indah di depan mata, sekaligus pemandangan yang mencengangkan, karena kita memandang jalur medan terjal yang harus kita tempuh untuk menggapai puncak gunung Merbabu. Berbalik arah pemandangan ke arah Gunung Merapi juga sangat indah sekali. Bila kita berjalan dengan cermat sekitar sekitar 25 meter di sebelah kanan jalur akan kita temukan sebuah batu berlobang yang keramat.

Sekitar 30 menit hingga 1 jam diperlukan perjuangan akhir dengan menapaki jalur padang rumput yang terjal dan berdebu untuk mencapai Puncak tertinggi gunung Merbabu. Setibanya di Puncak Gunung Merbabu, untuk menuju Puncak Kenteng Songo kita berjalan sekitar 10 menit ke arah Timur.

Itinerary Pendakian:
  1. Basecamp – Pos I : 1 jam 10 menit
  2. Pos I – Pos II : 1 jam 10 menit
  3. Pos II – Pos III : 50 menit
  4. Pos III – Sabana I : 1 jam
  5. Sabana I – Sabana II : 30 menit
  6. Sabana II – Puncak: 1 jam 15 menit

Catatan Perjalanan Pendakian G.Slamet (19-21 April 2013)

Gunung slamet adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Tertinggi ke dua di pulau Jawa setelah Semeru. Tinggi gunung slamet mencapai 3428 mdpl. Gunung Slamet merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia. Gunung ini terletak di kabupaten banyumas, purbalingga, dan tegal.
Dulu sewaktu kecil, saat bersepeda pagi-pagi ke sekolah diwaktu cerah sering saya melihat Gunung Slamet begitu megahnya menjulang tinggi. Jauh lebih tinggi dari deretan pegunungan disekitarnya. Dari rumah saya yang berjarak ratusan kilometer ini saya bisa melihat gunung slamet yang besar dan menjulang. Saya benar-benar kagum dibuatnya.

Semenjak saya menyukai kegiatan pendakian gunung, saya menjadikan Gunung Slamet sebagai gunung yang harus saya daki rimbanya. Di bulan Mei tahun lalu sebetulnya sudah ada ajakan dari beberapa teman, namun karena belum ada kesempatan saya memutuskan untuk menundanya. Di bulan desember tahun lalu sebetulnya saya sudah mulai merencanakannya, namun lagi-lagi urung, kali ini karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk mendaki gunung. Pun sama dengan bulan Februari tahun ini.

Akhirnya kesempatan itu datang lagi di akhir bulan april. Saya mendengar bahwa pendakian Gunung Slamet sudah dibuka lagi, karena cuaca sudah mulai mendukung. Akhirnya di awal maret saya mulai merencanakan pendakian gunung Slamet. Pertama-tama saya menentukan tanggal, yaitu tanggal 19-21 April 2013. Kemudian saya mengajak teman-teman yang berkeingian untuk mendaki gunung Slamet. Hingga akhirnya mendekati tanggal pendakian, jumlah anggota pendakian yang terkumpul ada 10 peserta. Yaitu: saya, Ucup, Atut (Perempuan satu-satunya), Arif, Panji, Annas, Bara, Galih, Sirin, dan Yanto.

Seminggu sebelum tanggal yang ditentukan, persiapan-persiapan pendakian dimatangkan, karena, mendaki gunung tanpa persiapan yang matang sama saja dengan bunuh diri. Mulai dari peralatan, logistik, transportasi menuju basecamp, dan merencanakan proses pendakian. Rencananya kami akan melalui jalur pendakian gunung slamet via bambangan. Kebetulan ucup juga sudah dua kali melewati jalur ini. Semua peseta pendakian akan berangkat bersama dari jogja kecuali yanto, karena yanto berangkat dari purbalingga. Seminggu sebelum tanggal yang ditentukan cuaca jogja cukup cerah, mudah-mudahan sama halnya dengan di gunung Slamet.

Akhirnya tanggal yang ditentukan datang juga. Jum'at pagi, 19 April 2013, anggota pendakian berkumpul di kost saya. Kami akan berangkat bersama-sama dari jogja. Masing-masing peserta ternyata membawa tas carier, tas besar khusus pendakian, kecuali atut -karena perempuan sendiri- hanya membawa tas semi carrier. Setelah pembagian tugas membawa logistik kelompok dan tenda dome akhirnya pukul 09.30 kami bersembilan meluncur dari jogja menuju basecamp pendakian gunung slamet di purbalingga menggunakan lima motor.

Gambar 1. Foto di depan kost saya, sebelum meluncur menuju basecapm pendakian
Dari jogja kami harus menempuh sekitar tujuh jam naik sepeda motor untuk mencapai basecamp pendakian di purbalingga. Untuk sampai di purbalingga, kami menempuh jalur utara, namun Kami melewati beberapa jalan alternatif. Dari jogja kami menuju candi borobudur, kemudian lenjut lewat kepil. Jalan kepil ini adalah jalan alternatif yang sangat rusak parah. Namun ini lebih baik dari pada harus memutar lewat temanggung meskipun dengan kondisi jalan yang jauh lebih manusiawi.
Pukul 12.00 kami mampir di kepil terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat jum'at. Jalan alternatif kepil benar-benar tidak manusiawi. Jalan naik turun berkelok-kelok diperparah dengan lubang disana sini. Dibeberapa bagian jalan hanya bisa dilalui satu lajur saja. Sehingga beberapa kendaraan harus terpaksa bersabar antri, menunggu kendaraan dari arah berlawanan untuk lewat terlebih dahulu.
Setelah berhasil keluar dari kepil kemudian kami sampai di wonosobo, pertigaan kretek lebih tepatnya. Sebelum pertigaan kretek kami mengambil jalan ke-kiri, jalan alternatif, sehingga kami tidak harus memutar melewati kota wonosobo. Jalan alternatif ini lebih manusiawi dibandingkan jalan kepil. Dibeberapa bagian memang rusak dan terdapat banyak lubang, namun lebih banyak lagi bagian yang bagus.
Keluar dari jalan alternatif ini kami kemudian menuju Banjarnegara. Jalan Wonosobo-banjarnegara tidak terlalu buruk meskipun masih terdapat beberapa bagian yang berlubang. Jalannya lumayan berkelok-kelok. Namun jalan yang sempit ditambah kendaraan yang padat cukup menyulitkan kami. Beberapa kali kami harus berusaha untuk menyalip mobil-mobil besar. Jalanan ini lumayan naik turun, melewati beberapa lembah. Beberapa kali saya dapat menjumpai pemandangan yang cukup elok, bahkan pada sebuah kesempatan saya menjumpai sepasang raptor (burung pemangsa, bisa elang ataupun alap-alap) sedang swaring (terbang memutar) diatas lembah yang lumayan dekat, tidak terlalu tinggi, sehingga saya dapat melihatnya cukup jelas. Namun sayang saya tidak membawa binoculer sehingga sulit untuk saya mengidentifikasi jenis raptor yang saya lihat. Dari banjar negara kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju purbalingga.
Pukul 16.30 akhirnya kami sampai di kota purbalingga. Di kota ini kami mampir sejenak untuk istirahat, makan, juga sholat ashar. Ucup sebagai penunjuk jalan sekaligus warga pribumi purbalingga mengajak kami makan di mie ayam kriuk di kota purbalingga. Sambil mengistirahatkan pantat yang panas karena harus duduk di sepeda motor melewati perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, kami mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Mengisi kembali energi. Karena menurut ucup, dari purbalingga menuju basecamp Bambangan masih sekitar satu jam lagi.

Gambar 2. Mampir sejenak di mie ayam kriuk purbalingga (Saya jadi korban sebagai tukang foto)
Setelah perut kenyang, perjalananpun kembali dilanjutkan menuju basecamp pendakian bambangan. Jalan menuju basecamp sudah mulai menanjak, beberapa kali bahkan harus melewati tanjakan yang cukup curam. Sampai-sampai sepeda motor yang saya tumpangi bersama arif harus berjuang ekstra keras untuk dapat naik. Seperti kebanyakan daerah pegunungan, dengan jalan yang naik turun dan berkelok-kelok, pemandangan yang saya dapat juga cukup keren. Kami harus melewati beberapa perkampungan, hutan pinus, dan yang lebih eksotis lagi adalah perkebunan stoberi. Disebelah kiri jalan hutan pinus, dan disebelah kanan jalan kebun stroberi membentang cukup luas dengan latar dinding bukit yang hijau. Benar-benar pemandangan yang sangat eksotis. Udara segar dan dingin sudah mulai bisa saya rasakan. Kehidupan asri di daerah pegunungan. Mendekati basecamp kami disambut oleh gerimis.
Pukul 18.00 akhirnya kami sampai di basecamp pendakian gunung Slamet via Bambangan. Sesampainya dibasecamp kami dikejutkan dengan kondisi basecamp. Basecamp slamet ini jauh berbeda dengan basecamp pendakian gunung pada umumnya. Dari beberapa gunung yang sudah saya kunjungi, basecamp nya sangat sederhana khas rumah-rumah orang desa. Kebanyakan berupa sumah yang dilengkapi dipan raksasa dengan lantai tanah. Menurut pengalaman saya, basecamp merbabu lewat jalur wekas adalah basecamp yang paling bagus dibandingkan basecamp pendakian gunung lainnya yang pernah saya kunjungi seperti merapi, sindoro, sumbing, dan lawu. Namun rekor itu terpatahkan, karena basecamp slamet via bambangan jauh lebih bagus dari basecamp beberapa gunung yang pernah saya kunjungi. Bahkan kalau boleh saya bilang, basecamp ini lebih bagus dari rumah saya sendiri apalagi kost-kostan saya. Basecamp slamet via bambangan adalah rumah permanen dengan lantai keramik yang masih baru dan kokoh serta luas. Belum lagi pelayanan yang diberikan, setibanya kami di basecamp langsung disediakan air panas untuk membuat minuman hangat serta diajak ngobrol oleh penjaga basecamp. Di basecamp ini kami melakukan regristrasi pendakian dengan membayar Rp. 6.000,- dan membayar parkir Rp. 5.000,- @ sepeda motor. Kami akan melakukan pendakian siang, sehingga malam ini kami bermalam dibasecamp. Hujan sudah mulai turun bersama udara dingin yang menusuk tulang.
20 April 2013
Pukul 05.00 kami semua terbangun. Hujan sudah lama reda dan pagi ini langit terlihat cerah. Puncak gunung slamet terlihat megah, jelas terlihat dari basecamp. Udara pagi ini benar-benar dingin, khas daerah pengunungan. Apalagi sepagi ini harus menyentuh air untuk wudhu, sholat subuh. Sambil menggigil saya memngucap syukur sambil mata tak hentinya memandangi keeolkan puncak Slamet yang terlihat gundul.
Pukul 07.15, kami bersiap-siap untuk menapakkan kaki menggapai puncak Slamet yang kami lihat tadi pagi. Sebelumnya kami sudah mengisi energi dengan sarapan di basecamp (9 ribu untuk nasi sayur+Telor+mendoan+teh anget). Tim pendakian juga sudah lengkap, tadi pagi yanto, salah satu anggota pendakian yang berangkat dari purbalingga sudah datang. Akhirnya setelah persiapan sudah siap, kami pun meluncur melangkahkan kaki. Dan sebelum itu saya meneriakan kode etik pegiat alam, sebuah kode etik yang akhir-akhir ini sudah mulai dilupakan oleh para pendaki gunung.
1)      Take nothing but picture (tidak mengambil apapun kecuali gambar)
2)      Leave nothing but trace (tidak meninggalkan apapun kecuali jejak)
3)      Kill nothing but time (tidak membunuh apapun kecuali waktu)
4)      Burn nothing but spirit (tidak membakar apapun kecuali semangat)

Gambar 3. Sesaat sebelum pendakian
Untuk mencapai gunung slamet harus melewati delapan pos terlebih dahulu. Dari basecamp menuju pos I adalah lahan pertanian milik penduduk. Naik sedikit dari basecamp kami disambut oleh gapura pendakian gunung slamet via bambangan. Jalur pendakian berada disebelah kiri jalan dari gapura tersebut. Jalanan mulai sedikit menanjak dan sudah merupakan jalan setapak. Jalanan ini melewati lahan-lahan penduduk. Cuaca pagi ini sangat cerah, jalan sedikit saja keringat sudah mulai bercucuran. Terus mengikuti jalan kemudian kami keluar dari lahan penduduk dan mulai memasuki hutan cemara. Hutan cemara ini sangat terbuka, sehingga belum mampu melindungi kami dari terik matahari. Suara burung-burung terdengar ramai di kanan dan kiri jalur pendakian, namun sayang burung-burung tersebut sulit diamatai karena hinggap disemak-semak dan entah di pohon yang mana. Saya juga sempat beberapa raptor swaring jauh di atas hutan.
Pukul 08.40, akhirnya kami mencapai pos I. Pos I ternyata bernama pondok gembirung. Dari basecamp dampai pos I ternyata sudah cukup melelahkan, keringan sudah menemukan jalan keluarnya. Di pos I ini terdapat bangunan yang beratap seng dan dindingnya juga dilingkupi seng untuk menahan angin. Kami sitirahat sebentar di pos I. pos I ini adalah pintu gerbang menuju hutan yang sesungguhnya, hutan yang benar-benar eksotis. Di pos I ini saya juga disuguhi pemandangan yang sangat eksotis, beberapa raptor terlihat swaring sangat dekat dengan pos I. bahkan salah satu raptor swaring tepat di atas kepala saya, bahkan saya sampai histeris sendiri. Tebakan saya raptor yang swaring di atas kepala saya adalah elang hitam, dilihat dari ukuran, waarna badan dan paruh, juga bentuk sayapnya. Saya juga disuguhi oleh atraksi keberanian burung srigunting yang mengusir raptor tadi. Sungguh burung kecil yang berani.



Gambar 4. Pos I, Pondok Gembirung
Pukul 08.45, Puas beristirahat kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan gunung Slamet. Hutan gungun Slamet berbeda dengan kebanyakan hutan di gunung-gunung di Jawa Tengah dan DIY. Kebanyakan hutan di merapi, merbabu, sindoro, sumbing, mauun lawu hanya berupa hutan homogen yang biasanya terdiri dari pohon cemara gunung dan tidak terlalu lebat. Hutan gunung slamet adalah hutan heterogen dengan pohon yang sangat besar-besar, belum lagi dengan semak belukar. Hutan ini sangat melindungi kami dari terik matahari, teduh. Hutan yang sangat lebat ini jelas saja menjadi tempat yang cocok untuk berbagai jenis burung. Suara burung terdengar ramai di kanan dan kiri jalur pendakian. Namun sayang saya sama sekali tak dapat menemukan burung-burung tersebut. Hanya ocehan mereka yang setia menemani pendakian kami. Jalur pendakian dari pos satu ini benar-benar sempit, berbeda dengan gunung-gunung lain.
Pukul 09.50, akhirnya sampai juga di pos II. Pos II bernama pondok walang. Di pos ini tidak terdapat bangunan seperti di pos I, tapi merupakan lahan luas untuk kamping. Saat kami tiba disini juga terdapat kamping milik pendaki dari jakarta. Di pso ini kami hanya istirahat sebentar, kemudian pukul 10.00 kembali melanjutkan perjalanan.



Gambar 5. Pos II, Pondok Walang
Dari pos II hutan yang kami lalui semakin lebat saja. Burung-burung masih terdengar ramai, namu sudah tidak saya jumpai lagi raptor yang swaring. Mungkin karena jarak pandang tertutup oleh pohon-pohon besar. Mulai dari pos II ini tim juga terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berjalan cepat di depan, terdiri dari bara, annas, galih, sirin, dan yanto. Sementara itu saya bergabung dengan kelompok dua yang berjalan santai di belakang, terdiri dari saya, ucup, atut, panji, dan arif. Jalur pendakian memang sempit dan menanjak, cukup menguras energi. Namun, saya rasa tidak ada percabangan, hanya ada satu jalur pendakian, walaupun susah.
Pukul 11.15, akhirnya kami -kel dua- sampai di pos III. Pos III bernama pondok cemara. Saya bertanya-tanya kenapa pos III ini dinamai pondok cemara karena disini sama sekali tak ada pohon cemara. Sama seperti di pos II, di pos III ini juga hanya terdapat lahan untuk camping, bukan bangunan. Namun, lahan campingnya cukup luas, mungkin bisa menampung 3 sampai 4 tenda dome. Di pos III ini juga terdapat sumber mata air, namun untuk mengambil air di pos ini harus turun terlebih dahulu ke bawah. Kami hanya istirahat sebentar di sini, kemudian pukul 111.20 melanjutkan perjalanan.



Gambar 6. Pos III, Pondok Cemara
Kelompok satu dan dua sudah berjarak sangat jauh. Kami kelompok dua sudah tidak bisa mendengar lagi jejak-jejak kelompok satu. Hutan semakin lebat saja. Sebenarnya burung-burung masih terdengar cukup ramai di kanan dan kiri jalur pendakian namun karena konsetrasi yang sudah menurun dan badan yang semakin lelah, saya sudah tidak begitu mempedulikannya. Beberapa anggota kelompok dua sudah terlihat begitu kepayahan, karena jalan semakin menanjak saja, apalagi dengan jalan setapak yang sempit. Bahkan beberapa kali saya harus merayap karena menghindari semak ataupun pohon tumbang. Menurut cerita ucup, dari pos III ini terdapat terowongan cinta, namun entah yang mana terowongan cinta itu. Karena terlalu banyak terowongan dengan semak belukar yang kami lewati.
Pukul 12.15, kami sampai di pos IV, Pondok Samarantu. Samarantu berasal dari kata samar dan hantu yang artinya hantu samar-samar. Menurut cerita-cerita pos IV ini adalah titik angker dari jalur pendakian gunung Slamtet. Tidak terdapat bangunan di sini, tapi terdapat lahan yang cukup luas untuk camping, mungkin cukup untuk 2 sampai 3 tenda dome. Namun dengan riwayat cerita pos IV saya kira jarang ada pendaki yang berani camping dan mendirikan dome di pos ini. Kami langsung melanjutkan perjalanan.

Gambar 7. Atut berpose di pos IV, Samarantu
Perjalanan dari pos IV ini sudah mulai terbuka. Pohon-pohon besar sudah terlihat jarang, namun masih menyisakan semak belukar disana-sini juga pohon-pohon kecil. Cuaca masih cukup cerah namun kabut sesekali bergerak mengalangi jalan, tapi hawa dingin yang dibawanya cukup menyegarkan badan yang mulai kepayahan. Jalanan masih sangat menanjak sementara perut kian keroncongan saja, rasanya energi dari nasi rames di basecamp tadi sudah terkuras habis.
Pukul 12.45 akhirnya kami sampai juga di pos V, pondok mata air. Sesuai namanya di pos ini terdapat sumber mata air yang terletak agak turun kebawak, ke arah barat. Saya turun untuk mengambil air wudhu sekaligus mengisi persediaan air. Airnya sangat jernih, saat saya menyentuh air tersebut rasanya seperti sedang menyentuh air kulkas. Sangat dingin. Bahkan dinginnya sampai menusuk-nusuk tulang. Bahkan ketika saya mencoba naik lagi ke pos V, kaki saya sampai kram karena begitu dinginnya air tersebut. Di pos V terdapat bangunan -lebih kecil dari pos 1-. Kelompok satu dan dua bergabung kembali di pos V ini. Di pos V terdapat banyak sekali sampah yang menumpuk. Rasanya kode etik pegiat alam hanya sebatas slogan semata. Setelah menghabiskan beberapa makanan kecil serta sholat Dzuhur yang dijamak sekalian dengan Ashar kami kembali melanjutkan perjalanan. Pukul 14.00 kami kembali melanjutkan perjalanan.

Gambar 8. Pos V, pondok mata air
Dari pos V ini kelompok dibagi menjadi dua kembali. Namun di kelompok dua tinggal menyisakan saya, ucup, dan atut. Panji dan arif akhirnya harus ikut di kelompok satu karena di tas carrier mereka terdapat perlengkapan membuat dome. Sebetulnya saya sedikit kasihan dengan panji, karena sepertinya fisiknya sudah sangat lemah, namun harus mengikuti kelompok satu yang bertenaga kuda dengan langkah yang capat. Sementara itu, kelompok dua berjalan amat santai di belakang. dari pos V sudah mulai meninggalkan hutan. Sudah tidak ada lagi pohon-pohon besar, hanya terdapat semak belukar dan pohon-pohon kecil serta beberapa pohon tumbang, sepertinya pohon-pohon bekas kebakaran. Kabut mulai menemani perjalanan kami. Jalannan masih saja menanjak.

Gambar 9. Jalur pendakian setelah pos V
Pukul 14.15 kami sampai di pos VI, Samyang Jampang. Ternyata jarak dari pos V ke pos VI hanya sebentar saja, hanya 15 menit perjalanan. tidak seperti jarak antar pos lainnya. Di sini hanya terdapat lahan kecil dengan pohon tumbang, mungkin hanya cukup untuk satu buah tenda dome saja.

Gambar 10. Pos VI, Samyang jampang
Istirahat sebentar di pos VI ini kemudian pukul 14.20 kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalur pendakian masih naik dengan semak belukar serta pohon-pohon kecil di kanan dan kiri jalur pendakian. Saya sempat melihat sekumpulan burung opior jawa berkicau dan terbang disekitar jalur pendakian. Namun karena kondisi fisik dan konsentrasi yang semakin menurun saya sudah tidak begitu mempedulikannya. Rasanya ingin cepat-cepat sampai di pos VII untuk istirahat apalagi jalanan sangat menanjak dan sempit. Dengan kondisi fisik yang sudah menurun serta kabut yang menemani sepanjang perjalanan dari pos V saya mulai menjadi sedikit romantis, pun sama denga ucup. Kami mulai berpuisi, meracau tak jelas. Beberapa kicauan dari ucup "menjadi satu dengan putih, maka tak ada lagi beda, seperti menghilang di dalam kabut". "saya beritahukan kepadamu kawan, tak akan ada kedamain di puncak gunung, karena kedamaian berada di jejak-jejak ketika mencapainya, ketika kalian berjalan".
Pukul 15.00 akhirnya kami sampai di pos VII, Samyang kendit. Di pos ini terdapat bangunan seperti di pos V, namun dengan kondisi yang sedikit lebih buruk. Terdapat lubang di beberapa bagian atap dan samping. Kami memutuskan untuk membuat tenda dome di pos ini, sebenarnya dome sudah selesai di pasang ketika kelompok dua sampai di pos ini. Satu dome yang bagus di pasang di luar (kapasitas 6) sementara dome yang jelek di pasang di dalam bangunan (kapasitas 4). Saya dan kelompok dua di tambah dengan arif harus lkhlas beada di tenda dome yang jelek, meskipun akhirnya justru tenda dome kamilah yang lebih nyaman dari pada tenda dome bagus yang dipasang di luar.



Gambar 11, pos VII, samyang kendit
Setelah dome selesai di buat kami pun mulai memasak di sini. Saya dan annas bertuga sebagai koki kali ini. Perut-perut yang keroncongan dan fisik yang sudah terkuras sudah meminta jatahnya. Suasana hangat mulai terasa, mengalahkan hawa dingin yang menyelimuti sedari tadi. Suara sendok yang saling beradu, juga tawa dan teriakan canda sambil makan. Memori seperti ini yang selalu saya rindukan dalam mendaki gunung. Sungguh benar-benar hangar bercanda bersama.



Gambar 12. Memasak dan makan-makan di pos VII
Setelah itu kami menikmati lam di pos VII, duduk menunggu senja. Menikmati hawa dingin sambil bercanda bersama. Di pos VII ini sudah berada di atas awan, beberapa kali suara gemuruh terdengar di bawah, petir tentunya. Di pos ini juga sudah terdapat bunga edelweis, namun sayang pada bulan-bulan ini bunga yang menjadi lambang cinta abadi dan hanya tumbuh di puncak gunung tersebut belum mekar. Hari semakin sore dan gelap, udara kian dingin menusuk. Akhirnya hujan sudah mulai turun. Setelah sholat magrib yang kembali dijamak dengan isya, kami memutuskan untuk istirahat. Besok dini hari harus sudah bangun untuk summit atack, mengejar sunrise di puncak Slamet.
21 April 2013
Pukul 02.00 saya dibangunkan oleh ucup. Kemudian semua anggota pendakian lainnya pun mulai dibangunkan. Saatnya untuk persiapan melakukan summit attack. Barang-barang yang tidak perlu dan berat seperti tas carrier dan tenda dome di tinggal di pos VII. Kami hanya membawa logistik siap makan seperti roti dan makanan ringan. Jangan lupa juga untuk membawa air minum, baik itu air mineral maupun air penambah energi. Saran saya, ketika naik gunung jangan lupa untuk membawa coklat dan membuat nutrijel. Semua logistik dimasukan pada satu tas semicarrier dan dua buah botol berisi nutrijel yang saya buat sebelum tidur semalam. Cuaca sangat cerah, hujan sudah lama reda sedari malam tadi. Bimntang bertaburan, di langit dan di bumi. Ya, cuaca yang cerah memungkinkan kita dapat mnikmati keindahan dunia modern yang berhasil menemukan lampu. Susunannya acak, dan tak kalah indahnya dengan bintang alami yang terbentang di langit. Menyinari gelapnya malam.
Pukul 03.00 kami siap untuk melakukan summit attack. Namun sayang panji tidak bisa ikut karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Kemungkinan ia terserang montain sickness, sebuah penyakit di ketinggian gunung. Begitulah yang namanya naik gunung, terkadang kita harus tahu kapan waktunya untuk stop, dan lanjut. Dan saya pikir keputusan panji untuk tidak ikut summit atack sangat bijak.
Udara dini hari yang benar-benar menusuk tulang, gemintang yang bertaburan di langit dan bumi, juga angin malam yang berhembus mesra mengantarkan langkah kami menjejak puncak slamet. Dari pos VII ini kelompok kembali terbagi dua, namun dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kelompok satu terdiri dari bara, annas, galih, sirin, dan yanto. Sementara itu kelompok dua terdiri dari saya, ucup, atut, dan arif. Total ada sembilan orang dari kelompok kami ini yang berjalan menuju puncak. Sepertinya kami kelompok pertama yang bergerak menuju puncak.
Setelah pos VII sebenarnya masih ada pos VIII, namun di gelap malam saya idak menemukan pos VIII ini. Saya baru menemukan pos VIII ketika turun. Pos VIII bernama samyang ketebon. Dari pos VII ke pos VIII jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin hanya 10 menit perjalanan saja. Vegetasi yang kami hanya terdapat semak dan rumput khas puncak gunung serta beberapa pohon kecil. Beberapa pohon edelweiss tumbuh di kanan dan kiri jalur pendakian, namun lebih banyak lagi yang tumbuh di lembah-lembah gunung. Kondisi jalan juga semakin menanjak saja. Kami terus berjalan dengan napas yang memburu karena oksigen yang kian menipis serta udara dingin yang menusuk tulang. Namun pemandangan langit dan perumahan di bawah benar-benar mengagumkan, cukup menghibur dan menjadi penyemangat.
Pukul 03.20 kami akhirnya sampai di pelawangan. Disini kelompok satu dan dua kembali bergabung. Di pelawangan inilah merupakan batas vegetasi. Biasanya orang menyebutnya sebagai batu merah. Karena mulai dari sini jalur pendakian sangat terjal dan hanya terdiri dari batu-batuan merah yang beberapa diantaranya labil. Untung cuaca saat itu cerah, tak bisa saya bayangkan kalau terjadi badai.
Hari yang masih gelap dan hanya mendapat penerangan dari senter sedikit menyulitkan proses mendaki batu merah ini. Puncak gunung slamet masih belum terlihat. Dari pelawangan ini, kita harus pintar-pintar mencari jalur sendiri. Patokannya adalah kita berjalan diantara jurang, jadi kanan dan kiri kita jurang. Jika terlalu kanan maupun terlalu kiri akan berakibat vatal. Di sebelah kanan di atas pelawangan terdapat in memoriam, mungkin milik pendaki yang meninggal di gunung slamet.
Beberapa kali kabut turut sedikit mengurangi jarak pandang juga membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Suara gemuruh petir juga beberapa kali saya dengar dari sebelah timur. Sekarang kami sudah-benar-benar di atas awan. Beberapa kali batu labil yang terinjak longsor kebawah. Selain harus berhati-hati dan waspada, jarak antar pendaki juga jangan terlalu dekat. Harus bisa menjaga jarak. Saya dan ucup berada di belakang sendiri, menjadi sweeper.
Pukul 04.30, setelah sempat meliat sebuah meteor menggores langit akhirnya kami sampai di puncak gunung slamet. Di tanah tertimggi jawa tengah. Masih terlalu pagi saat kami datang kesini. Mentari sama sekali belum terlihat, bahkan kami masih bisa mencari-cari beberapa konstelasi bintang. Jangan tanya suhu di puncak, sangat dingin kawan. Bahkan kami masih belum berani ke atas puncak. Kami masih menunggu di punggung puncak, berlindung pada bebatuan dari angin yang benar-benar dingin.
Setelah rasa lelah mencapai puncak cukup mereda, kami sholat subuh berjamaah dalam dingin. Sungguh tak ada yang bisa mengalahkan sensasi sholat subuh di puncak gunung. Dengan badan yang bergetar menahan dingin, kami berdiri menghadap Tuhan dari tanah tertinggi. Beberapa kali bahkan saya tak bisa mengucapkan lafal sholat dengan fasih karena sambil bergetar menahan dingin. Kalian harus mencobanya kawan.
Setelah selesai sholat kami duduk berkumpul menunggu mentari terbit di ufuk barat. Masih di punggung puncak, karena rupanya suhu di puncak dengan anginnya masih terlalu ekstrim. Sambil mengigil kedinginan -bahkan beberapa saling berpelukan- kami bercanda dan menunggu semburat merah yang melukis langit.

Gambar 13. Sedang berjuang menahan dingin di puncak slamet
Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Semburat jingga mulai menggaris langit sebelah timur. Beberapa bukit dan gunung mulai nampak. Dibawah, terlihat lautan membentang luas, indah seperti gumpalan kapas. Dan kami sedang berada di bawahnya. Rumah-rumah terlihat pada lautan awan. Bukit-bukit hijau yang tersamarkan kabut tipis yang membiaskan cahaya mentari pagi benar-benar istimewa. Ucap syukur karena kami berkesempatan menikmati momen yang sungguh luar biasa ini. Maha suci Allah SWT dengan segala ciptaannya ini. Keindahan yang tak kan pernah bisa di rangkum dalam kata, digambarkan dalam kanfas, dan di abadikan oleh kamera. Hanya mata dan ingatan yang sanggup merekamnya, anugrah dari Tuhan yang maha Esa. Di ujung timur, di balik lautan awan, samar-samar saya bisa melihat gunung sindoro, sumbing, merapi, dan merbabu. Indah berlatarkan jingga. Di sisi utara saya bisa melihat gunung ceremai berdiri kokoh. Cuaca benar-benar cerah.









Gambar 14. Suasana menunggu pagi di puncak slamet
Pagi semakit hangat, mentari terlihat semakin tinggi. Baru saja saya matahari yang baru merekah merah sudah terlihat penuh. Saatnya untuk naik kepuncak gunung slamet yang sebenarnya. Udara sudah tak sedingin tadi pagi. Teman-teman yang lain juga sudah mulai ribut berfoto ria. Saya masih tertegun takjub dengan pemandangan di sebelah timur. Lembah dan bukit yang tertutup kabut tipis. Seperti lembah sicuan pada film-film cina, kata ucup. Saya sadar, bahwa saya sedang berada di tanah tertinggi jawa tengah, berada di atas awan. Sungguh pemandangan yang amat mengagumkan. Saya meresapi semua itu dengan seluruh jiwa saya.
Puncak gunung slamet sangat luas. Terdapat kawah ditengahnya. Sebenarnya turun sedikit kita akan menjumpai puncak triangulasi, namun puncak triangulasi terlalu dekat dengan bibir kawah. Letaknya juga lumayan jauh dari tempat saya berdiri sekarang. Udara semakin hangat, menambah romantis suasana dipuncak. Saatnya untuk enikmati semua kedamaian ini hingga tuntas, sambil mengisi perut dengan makanan ringan yang tadi kami bawa. Dengan makanan di tangan, suasana semakin riang.




Gambar 15. Suasana puncak yang riang
Pukul 06.30, setelah puas menikmati suasana puncak gunung slamet kami memutuskan untuk turun. Menuju kembali pos VII, tempat kami meninggalkan panji dan semua barang-barang pendakian. Suasana semakin cerah dan panas. Jika turun dari puncak terlalu siang saya takut kalau-kalau kabut sudah mulai turun dan menghalangi jarak pandang, padahal seperti yang sudah saya katakan, trek dari pelawangan ke puncak begitu curam dan medan berupa batu yang beberapa labil. Akan sangat susah jika kabut turun.
Naik dan turun dari puncak slamet sama susahnya. Seperti saat naik, saat turunpun membutuhkan kehati-hatian dan konsentrasi. Kita harus pintar-pintar memilih jalur. Jangan sampai terperosok ataupun salah jalur. Sebab, di kiri dan kanan adalah jurang, jangan sampai tersasar dan keluar dari jalur.
Saat turun, kami berpapasan dengan banyak sekali pendaki yang baru akan muncak. Rupanya tadi sepi karena kamilah kelompok pertama yang mencapai puncak. Di gunung, semua orang menjadi saudara dan kawan lama. Setiap orang yang bertemu pasti saling menyapa dan bertukar semangat. Sungguh pemandangan yang mengasyikan. Saat saya sudah mencapai pelawangan, masih saya dengar teriakan-teriakan semangat dari kelompok-kelompok yang sedang berjuang menuju puncak. Salah satu hal yang selalu membuat saya rindu naik gunung. Akhirnya pukul 07.30 kami kembali sampai di pos VII.
Setelah packing, pukul 09.00 kami turun dari pos VII. Saya memutuskan untuk memasak (sarapan) di pos V, karena kami sudah kehabisan air bersih. Jarak dari pos VII ke pos V tidak terlalu jauh, apalagi saat turun waktu tempuh bisa lebih cepat dua kali lipat.


Gambar 16. Bersiap-siap turun dari pos VII
Kelompok mulai terbagi dua lagi. Seperti biasa, saya tergabung dalam kelompok dua yang berjalan santai dibelakang. Pukul 09.45 kami sampai kembali di pos V, pos mata air. Kami memutuskan untuk memasak disini. Namun, annas, galih, sirin, dan yanto memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Karena mereka ada urusan, dan tidak ikut kembali ke jogja. Akhirnya hanya tersisa saya, ucup, atut, panji, arif, dan bara di pos V. kami akan masak dan sarapan dulu di pos V sebelum turun ke basecamp.
Persediaan logistik yang tersisa kembali dikeluarkan, bersama dengan alat-alat memasak seperti kompor mini, nasting, dan botol gas kecil. Menu kali ini adalah tumis kacang panjang, tumis labu, sarden, dan mie instan sebagai sumber karbohidrat. Dalam mendaki gunung logistik adalah barang yang sangat penting, terutama untuk menambah energi. Jadi, kalau bisa jangan hanya membawa mie instan.


Gambar 17. Memasak dan makan-makan di pos V, sebelum turun.
Pukul 10. 45, setelah packing dan perut terisi kami bersiap untuk turun ke basecamp. Jangan lupa buat semua sampah kembali dibawa turun. Leave nothing but trace, setidaknya kode etik tersebut kita terapkan mulai dari diri kita sendiri, karena kode etik bukan hanya slogan semata. Butuh sebuah tindakan nyata sebagai perwujudannya. Dari rangkaian pendakian gunung, bagian tersulit adalah turun gunung. Selain karena kondisi fisik dan konsentrasi yang sudah sangat menurun, tidak adanya passion atau tujuan puncak seperti saat naik merupakan faktor yang membuat bagian turun terasa berat. Waktu tempuh turun memang jauh lebih cepat dari pada saat naik, namun rasanya -menurut saya- terasa jauh lebih berat saat turun gunung. Walaupun barang bawaan lebih ringan dari pada saat naik, tapi beban di kaki rasanya jauh lebih berat. Mungkin karena kaki harus menumpu dan mengerem saat turun. Kemampuan kaki dan lutut benar-benar dieksploitasi. Oleh karena itu, buat kalian yang berencana naik gunung, jangan lupa menyisakan separuh energi untuk bagian turun gunung. Jangan semua energi dihabiskan untuk menuju puncak kawan. Beberapa kali kami de kelompok dua harus jatuh dan duduk mengeluh merasakan kaki yang kian lemas dan mati rasa saja. Pukul 15.00 akhirnya saya mencampai basecamp kembali. Rasanya benar-benar lega bisa melihat basecamp lagi.









Gambar 17. Keriangan saat turun ke basecamp
Pukul 17.00, setelah istirahat sejenak akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang kejogja. Keputusan yang sangat berani menurut saya, mengingat kondisi fisik yang sudah sangat menurut dan lelah luar biasa, sebenarnya tidak memungkinkan untuk berkendara jarak jauh. Setelah melewati perjalanan pulang penuh keceriaan, membawa bahagia dari puncak slamet, serta panji dan atut yang sempat jatuh dari motor di banjarnegara, akhirnya pukul 24.00 kami sampai kembali di Jogja. Bersiap untuk kembali menghadapi kenyataan. Tiga hari kemarin, saya sudah cukup mengecharge ulang energi positif di puncak gunung dengan semua kisahnya. Saatnya kembali pada rutinitas nyata di kehidpan nyata. Gunung bukan tempat untuk lari dari masalah, tapi tempat untuk mengumpulkan kembali semangat untuk menghadapi masalah di dunia nyata. Esok, pasti saya akan sangat merindukan momen-momen yang sangat berkesan di gunung slamet. Saya akan sangat merindukan rimbamu, juga kabut tipis di jurang-jurangmu, gunung slamet.

Jumat, 15 Maret 2013

lelucon tentang cinta


Senyap dan sepi, malam ini bergelas-gelas kopi kembali memenuhi dahaga pangkal lidahku akan rasa pahit. Rasa yang mengantarkanku pada imajinasi bebas yang melesat mamancar ke segala arah. Hingga akhirnya imaji itu meninggalkan goresan-goresan untuk kumaknai. Di sini, dalam keheningan malam. Seperti kopi yang masih meninggalkan rasa pahit di pangkal lidahku.

Seorang teman mengunjungiku malam ini, seseorang yang membawa banyak cerita untuk dibagi dalam keheningan malam. Dan aku menyediakan kopi untuk membebaskan dirinya malam ini. Kopi dengan rasa yang mencabik pangkal lidah hingga lidahnya lemas. Rasa itu membawanya terbang seperti burung, menatap semesta dengan caranya sendiri, setiap sudut tanpa terlewat. Seperti apa yang rasa itu selalu lakukan padaku.

Cerita-ceritanya malam ini berpangkal pada satu lelucon tentang cinta. Sebenarnya aku tak benar-benar mengerti apa itu cinta, dan mengapa pula aku menyebutkannya sebagai sebuah lelucon. Aku hanya ingin menertawakannya tanpa tau sisi mana yang lucu dari cinta. Kisah temanku ini, kisahku -yang ngga aku bagi-, dan mungkin kisah pecinta-pecinta lainnya di bumi ini. Mungkin letak kelucuan dari cinta adalah ketidakmengertianku tentang cinta, tapi aku begitu sok tahunya, dan bahkan berlagak menjadi orang yang paling mengerti tentang cinta. Padahal aku sama sekali tak mengerti apa itu cinta.

Temanku ini berkisah tentang hubungan-hubungannya yang terdahulu dengan perempuan-perempuan yang pernah mengisi cerita hidupnya dengan cinta. Rasa bahagia yang dibawanya, rasa sakit yang menyertainya, rasa bimbang yang bertaburan dimalamnya, dan ada banyak rasa lagi yang mengalir bersama aliran cinta. Satu hal yang aku mengerti akan cinta, ternyata cinta itu berbeda dengan kopi. Kopi hanya menyediakan rasa yang sama pada tiap teguknya, tapi cinta memiliki banyak rasa pada masing-masing tegukan. Dan kesemua rasa itu bersifat acak tanpa kita bisa memilihnya.

Seperti itukah cinta? Tak adakah rasa yang mampu menggambarkannya secara jelas?

Selanjutnya temanku ini bercerita tentang kisah percintaan yang sedang ia alami sekarang. Bagaimana ia berjumpa dengan seorang perempuan. Sebenarnya bukan pertama kali itu berjumpa dengan perempuan ini. Ia sudah lama mengenalnya. Namun hanya perkenalan yang hanya sebatas tahu, dan dulu ia hanya menganggap perempuan ini sebagai kenalan biasa. Hingga suatu hari, pada sebuah perjalanan yang tidak terduga, jalan takdir memperkenalkan mereka lebih dalam lagi. Dan sesaat setelah massa itu, temanku ini merasa ia telah jatuh cinta pada perempuan ini.

Saat ku tanya kenapa ia mencintainya, temanku ini hanya menjawab bahwa ia mencintai perempuan ini karena ia merasa nyaman saat bebincang dengan perempuan ini. Ia juga merasa kagum akan sifat-sifat perempuan ini yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Ia benar-benar menikmati rasa yang ia rasakan sekarang, rasa bahagia para pecinta yang sedang dimabuk asmara. Lalu, ketika datang sebuah massa ketika rasa nyaman itu menguap bersama putaran waktu dan perempuannya berubah mengikuti aturan jalan takdir yang tak pernah terduga, akankah masih ia mencintainya?

Hingga saat ini temanku ini masih belum menyatakan perasaanya, baik dalam bentuk pertanyaan, maupun dalam bentuk pernyataan. Saat ini, ia masih terlalu asik untuk menikmati rasa yang dibawa olehnya. Rasa yang terkadang justru membuatnya terjaga lebih lama dalam kegalauan. Menatap langit-langit kamar dalam keremangan malam, menahan rindu yang belum juga tersampaikan, mengutuk bibir yang belum mmengucap apa yang hatinya ingin ucapkan. Ia masih terlalu sibuk untuk merenda-renda khayalan, merangkainya menjadi harapan-harapan yang menguncup indah. Berbau semerbak harum.

Seperti itukah cinta? Lalu apa bedanya ia dengan obat-obatan terlarang yang membuat syaraf-syarafnya tetap terjaga sepanjang malam?

Ia bercerita padaku tentang bagaimana perempuan ini selalu bersikap spesial padanya. Pernah suatu hari perempuan ini meminjam pundaknya untuk bersandar dikala lelah. Temanku ini, senang bukan kepalang. Hingga malam ini, ia masih dengan semangatnya menceritakan kisah ini dengan detail sedetail-detailnya. Pernah suatu hari dalam sebuah perjalanan bersama perempuan ini -yang juga dengan teman-temannya-, ia meminjamkan kain sarungnya untuk melindungi tubuh perempuan ini dari terpaan angin. Hingga saat ini, mungkin sudah berminggu-minggu, ia berjanji untuk tidak mencuci kain sarungnya tersebut. Padahal menurut logikaku, logika orang waras tentunya, bau perempuannya itu sudah pasti akan tergantikan oleh bau apek yang umum muncul dari sebuah kain yang tak pernah dicuci. Ada banyak kejadian-kejadian antara temanku ini dengan perempuannya yang boleh jadi dianggap biasa saja olehku, mungkin juga oleh kalian, tapi entah pasal apa temanku ini bercerita dengan sangat semangatnya bahwa kejadian-kejadian itu adalah pertanda yang selalu membuat cintanya tumbuh semakin mekar. Dan lebih banyak lagi kata-kata yang terucap dari bibir perempuan ini yang selalu ditanggapi dengan impulsif oleh temanku ini yang menjadikanku  berpikir bahwa temanku ini lebih mirip sebagai mesin perekam suara.

Ia lupa bahwa orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu hari ia tak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.

Begitukah yang namanya cinta? Ia seperti sebuah fatamorgana yang menyesatkan para penjelajahnya yang sedang berusaha untuk memaknainya?

Saat ini aku bisa menertawakan itu semua sebagai sebuah lelucon yang memang pantas untuk ditertawakan. Pertanyaan-pertanyan yang hanya digunakan sebagai pemantas untuk olok-olokku akan kisah temanku yang sedang jatuh cinta ini. Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan lagi jawaban. Aku lupa bahwa aku pernah berada pada suatu massa seperti itu. Keadaan yang sama dengan temanku yang sedang jatuh cinta ini. Mencari banyak alasan untuk membenarkan perasaanku. Menatap langit-langit kamar sepanjang malam dengan tatapan kegalauan. Membiarkan hati menjebakku dalam sebuah kebahagian yang palsu. Aku pernah mengalami itu semua dulu. Jauh sebelum pemahaman baik itu datang.

Aku bisa menertawakan kisah itu karena sekarang aku berada pada sisi yang berbeda dengan temanku ini. Aku tidak lagi berada dalam keadaan yang sama seperti temanku ini. Aku telah berhasil keluar dari pemahaman tentang cinta yang mengotak-kotakannya pada rasa tertentu. Karena menurutku cinta itu tidak berasa. Tapi ia ada. Dan ia tak perlu alasan untuk menunjukan keberadaannya. Cinta hanya meninggalkan jejak-jejak untuk dimaknai keberadaannya. Jejak-jejak yang berupa kata kerja, bukan kata sifat.

Cinta itu ibarat mata air segar yang keluar dari dalam tanah, kita hanya perlu sesuatu yang cukup kuat untuk mengendalikannya. Menutupnya ketika dirasa cukup, atau mengalirkannya ketika kehausan. Seperti itulah cinta, ia hanya butuh hati yang kuat untuk mengendalikannya. Hingga ia tahu kapan waktunya merasa cukup, karena cinta itu tentang harga diri. Dan cinta yang tak sesuai takarannya hanya akan menariknya dari dunia logika. Cinta yang terkendali kemudian akan bisa dikonfersi menjadi sebuah energi positif yang akan membawanya naik tingkat pada tingkatan kedewasaan yang lebih tinggi lagi. Dan cinta yang seperti itu akan mendorongnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Cinta, cinta, cinta.... sampai sekarangpun aku belum benar-benar mengerti apa itu cinta. Tapi yang jelas, sekarang aku bisa menertawakan lelucon tentang pemahaman cinta orang-orang yang sedang mabuk asmara. Orang-orang yang tidak mampu mengendalikan perasaan cinta di dalam hatinya. Sekarang aku bisa menertawakannya, namun esok lusa mungkin aku akan kembali terjebak pada pemahaman seperti itu lagi. Apa yang aku fikirkan sekarang mungkin nantinya hanya akan menjadi sebuah omong kosong besar tentnag kemunafikan. Tapi esok biarlah takdir yang akan menjawabnya, aku hanya sedang berusaha untuk melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan sekarang. Aku akan berusaha untuk sekuat tenaga menjaga idealisme seperti ini. Dan aku sungguh-sungguh berdoa dari hatiku yang paling dalam agar temanku ini bisa mengerti akan makna yang bisa ia peroleh dari jalan takdir yang dipersiapkan padanya hingga ia mendapat pemahaman baru tentang cinta. Mungkin tak sama dengan pemahamku, tapi setidaknya suatu hari nanti ia bisa menertawakan pemahamannya tentang cinta di hari ini.