Sabtu, 04 Agustus 2012

Sebuah Jarak

Semalam acara bareng anak-anak kelas, seru dan ngangenin...

Lama tak berjumpa mereka, kawan-kawan seperjuangan mencapai titel sarjana. Membagi kisah beberapa minggu ini, kisah tentang perjalanan seorang guru, karena memang kita dididik untu mejadi guru bukan?

Ada cerita senang, lelah, indah, sedih, semuanya bercampur dalam tawa renyah.

Dan diantara kawan-kawan itu, ada kau disana. Gadis kecil berwajah sendu....

Kau bercerita banyak hal, tentang tugas-tugas berat selama ppl, tentang indahnya menjadi guru, bahkan tentang kunang-kunang di pematang sawah.

Tapi entah mengapa aku merasa berbeda, memang tawa ini sangat menghiburku, atau malah cuma pelarianku? tempat bersembunyi ku dari tatapan matamu? Seperti aku bersembunyi dibalik sendunya purnama malam tadi...

Aku merasa sepi dalam keramaian ini... Urusan perasaan ini, memang tak semudah yang aku bayangan...

Seakan ada jarak diantara aku dan kamu, aku melihatanya, jarak saat kau menatapku, juga jarak saat ku menatapmu.. Jarak yang jauh untuk diselami dan tak dapat di ukur dengan angka...

Aku dengan jelas dapat meihat jarak itu, saat bermain gelembung, bermain kembang api, semuanya, seakan aku coba menghindari jangkauanku, pun dengan aku yan menghindarimu...

Jarak ini, akan kucoba tebas dengan pedang waktu, semoga kali ini waktu memihakku...

Bersahabat dengan sang waktu.....

Gadis kecil berwajah sayu, maaf, bukannya aku mencoba melupakanmu, aku hanya mencoba untuk berdamai dengan perasaan ini... Tak pernah terlintas sekalipun dalam benakku untuk melupakanmu. Beri aku waktu untuk melewati semua ini, aku hanya mencoba untuk mengembalikan semuanya seperti dulu lagi. Ah, mungkin tak akan seperti dulu lagi, tapi setidaknya lebih baik dari saat ini...

Waktu, Bantulah aku....

Sabtu, 21 Juli 2012

Patah Hati??

Ah... Sudah lama rasanya aku tak menuangkan kisahku dilayar 14 inci ini...

Banyak hal yang terjadi, terlalu banyak malah... Proses yang memberiku pelajaran banyak hal, yang semoga saja mampu membimbingku menuju kedewasaan...

Mungkin sedikit melankolis, kisah yang ingin kuceritakan ini tentang persahabatan, cinta, dan hati yang terluka...

Bahagia, sedih, sayang, suka, patah hati, cinta. Itu semua adalah rasa, sebuah kelebihan yang dianugrahkan Tuhan kepada manusia. Rasa inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan, ataupun tumbuhan. Sesuatu yang menjadikan manusia hidup dalam artian yang sebenarnya, karena manusia bukanlah robot yang hidup tanpa menggunakan hati. Ya, semua rasa itu memang berpusat di dalam hati manusia.

Dua minggu lalu, ketika kau berucap bahwa rasa sayangmu untukku tak cukup seperti yang orang sebut dengan pacar. Rasa sayangmu tak seperti rasa sayangku padamu, kau hanya menganggapku sebagai sahabat, itu saja, tak lebih. Patah hati, begitu mungkin yang orang bilang tentang keadaanku waktu itu. Sebuah rasa yang menurut orang-orang sangat menyakitkan. Karena memang begitu pula menutku. Kau mengucapkannya ketika tepat pukul 12 malam, dan hingga pagi menjelang, aku tak juga sanggup terlelap. Mungkin rasa sakit itu membuatku lupa devinisi dari kata tidur.

Tapi itu dua minggu lalu. sekarang sudah berbeda, walaupun hanya sdikit saja, setidaknya itu menandakan adanya perkembangan dari pemahamanku tentang apa tiu patah hati. Bukankah memang  sudah seharusnya kita belajar dari proses, dari hidup yang kita jalani.

Hingga sekarang, rasa sayang itu sebenarnya belum berkurang sedikitpun, aku belum juga bisa berdamai dengan perasaan ini. Dua minggu bukan waktu yang panjang untuk berdamai dengan perasaan cinta, perasaan sayang. Tapi dengan belajar dari perasaan ini, esok lusa pasti aku mampu berdamai dengan perasaan ini, esok lusa pasti bisa !

Sekarang, setidaknya aku tau bagamana harus memposisikan kau di hidupku. Bukan untuk melupakanmu, tapi melupakan perasaan cinta ini, berdamai dengan perasaan ini. Aku akan sekuat tenaga mengontrol perasaanku padamu ini, agar tak lagi membiarkannya bebas membuat ilusi-ilusi masa depan tentang aku dan kamu yang dapat menghanyutkanku pada kehancuran, pada pesakitan. Dan aku akan tetap memposisikanmu sebagai sahabatku, sama seperti 6 bulan lalu ketika kita dipertamukan di ABU-ABU bersama si gadis polos dan lelaki berkacamata. Saat kita tertawa  bersama dalam kebersamaan. Walaupun mungkit tak akan sama seperti 6 bulan lalu, tapi akau akan berusaha !

Maaf, untuk kamu, gadis polos, dan lelaki berkacamata, karena mungkin rasa cintaku ini telah menghancurkan prsahabatan kita. Keindahan dari kebersamaan. Tapi jalan takdir memang begini adanya, dan aku tak akan pernah mempersalahkannya.

Lalu bagai mana dengan lukaku? tentang patah hati ku?

Yang jelas sudah tak sesakit 2 minggu lalu. Bukankah patah hati itu indah? jika kita mampu melihat dari sudut yang berbeda. Sekarang ini aku sedang berusaha untuk mencari sudut pandang mana yang menyatakan patah hati itu indah. Setidaknya aku bisa merasa hidup dengan adanya rasa ini, aku bisa melihat senja yang lebih jingga, aku bisa melihat banyak hal dengan mata hati yang terbuka. Karena mata hati kadang terbuka oleh hal-hal yang menyakitkan, oleh hati yang sedang terluka.

Sekarang, biarlah sejenak aku menikmati rasa sayang ini, rasa cinta ini. Biarkan aku menikmati harum bunga cinta yang menyejukan ini, biarpun aku tau kau tak pernah menyambut bunga cinta ini, tapi cukuplah ketika aku memilikinya untuk sekejap ini. Esok lusa, ketika bunga cinta ini telah layu, maka saat itulah aku telah berdamai dengan persaan cinta ini.

Bunga cinta ini lah yang akan menemaniku dalam kesepianku, membantuku terbang dengan sebelah sayapnya, karena kau memang tak melengkapi sebelah sayapnya llagi. Tapi dengan sebelah sayap ini, cukup untukku tertatih terbang, melihat bnyak hal dari atas, meskipun hanya sekejap.

Aku mencoba bersyukur akan jalan takdir ini. Setidaknya aku sudah berani untuk jujur akan perasaanku, bukan lagi pecundang yang selalu berbohong akan perasaannya. Dan dengan kekuatan ini aku akan belajar untuk berdamai !!

Aku bersyukur pernah mengenalmu.
Aku bersyukur pernah mencintaimu.

Gadis kecil bermata sayu, terimakasih karena kau meluangkan waktu untuk menjadi salah satu tokoh dalam kisahku ini.....

Tuhan, terimakasih untuk Takdir yang telah kau susun....

Gadis kecil berwajah sayu, semoga kau juga tak melupakanmu. Setidaknya saat kau memandang bunga krisan ungu itu kau akan teringat, bahwa ada aku yang dulu memberikan bunga itu padamu disuatu malam yang dingin. Menyatakan CINTA....

Kamis, 31 Mei 2012

Rumah yang Belum Jadi

Sebuah celah kecil,
tersembunyi dibalik batu-batu besar yang tersusun rapi.
Lupa untuk diperhatikan satu pasang mata yang selalu terjaga,
yang selalu sibuk mencari hal-hal besar di depan rumah yang sedang ia bangun.
Apakah ia lupa kalau hal besar ada karena hal kecil?
Seperti celah kecil di rumah besar yang belum jadi.

Mentari bersinar terang.
Sinarnya sibuk mencari-cari jalan.
mengejar kesana kemari celah-celah kecil yang bertambah satu setiap kali malam datang.
Saat mentari bersembunyi di balik bukit.
Apakah ia belum juga memperhatikannya?

Celah-celah kecil saling tertawa.
Manja digelitik sinar mentari pagi ini.
Tawanya saling menyahut, bergema disana sini.
Riang sekali ditingkahi burung gereja yang terbang bergerombol.
di depan rumah yang belum jadi.

Ah....
Ia, akhirnya tersadar, terbangun dari mimpi-mimpi dikala pagi.
Mimpi yang hadir saat ia terjaga,
saat mencoba melihat banyak hal di depan rumah yang belum jadi,
burung gereja yang terbang kesana kemari.
Bukankah tawa mereka memang keras?
mengagetkannya dari mimpi di pagi ini.

Sebelum kaki kembali melangkah...
Sebelum angin pagi kembali berhembus...
Sebelum detik kembali menunjuk angka lainnya...
Sebelum sinar mentari kembali berlari riang...
Sebelum pagi kembali menjemput siang...
Sebelum sepasang mata selesai menerka,
menyampaikan informasi ke otak yang kecil di kepala yang juga kecil.
Tawa riang celah-celah kecil itu terlalu keras.
Batu yang sudah tersusun rapi akhirnya jatuh berguguran.
Rumah yang belum jadi akhirnya roboh terbawa aliran waktu.

Kaki kembali melangkah...
Angin pagi kembali berhembus...
Detik kembali bergerak menunjuk angka lainnya...
Sinar mentari kembali riang berlari...
Burung-burung gereja kembali terbang...
Pagi kembali menjemput siang...
Sepasang mata akhirnya selesai menerka,
menyampaikan informasi ke otak yang kecil di kepala yang juga kecil.
Bahwa  rumah yang belum jadi, telah runtuh
roboh oleh celah-celah kecil yang selalu ia lupakan.

Apakah ia akan tetap diam?
Sibuk dengan mimpi-mimpi dikala pagi.
Menyaksikan reruntuhan rumahnya,
seperti seorang turis yang terkagum-kagum akan peninggalan kejayaan dulu
Hingga kemudian angin membawanya pergi,
jauh berlari meninggalkan reruntuhan rumah yang belum jadi

Ataukah ia akan memungut batu-batu besar yang berserakan dimana-mana?
menyusunnya kembali satu-persatu.
Bertahap membangun rumahnya yang belum jadi dulu.
Tapi pastilah ia sudah belajar tentang celah?
Rumah yang sekarang ia bangun pastilah berbeda dengan rumahnya dulu?

"Proses pastinya memberikan banyak hal untuk dipelajari. Bukan hanya tentang kesakitan, tapi juga tentang kesenangan. Proses belajar yang akan menuntun manusia ketahap selanjutnya. Membangun satu tingkat rumahnya secara bertahap"

Kaki-kaki...
Angin pagi...
Detik-detik...
Sinar mentari...
Burung gereja...
Pagi dan siang...
Putaran waktu kembali membimbingnya berjalan.
"hidup memang soal pilihan"

Jumat, 25 Mei 2012

Tentang kebebasan

Hari ini, TV kembali disuguhi oleh sinetron-sinetron yang berkisah tentang mimpi, tentang imajinasi tanpa batas. Si pemeran utama yang selalu saja disakiti, kemudian mampu bangkit lagi, hingga suatu hari kemudian disakiti lagi. Mimpi tanpa batas, adalah khayalan yang tak pernah dapat tergenggam.

Kenyataan adalah batas dari setiap mimpi-mimpi.

Televisi, dulu adalah hiburan rakyat yang dapat mempersatukan semua lapisan, semua kasta. Aku pun masih ingat bagaimana indahnya menonton satria baja hitam sambil berdesak-desakan dengan anak kampung sebelah, atau ketika bersorak bersama ketika Solkjaer menceploskan gol kemenangan untuk timnya. Lalu untuk apakah sekarang televisi?

Tiap rumah pasti punya, dan di tiap rumah itulah bocah-bocah dicekoki dengan cerita khayal yang tak pernah berani memandang kenyataan, juga tentang kehidupan orang lain yang mereka tau, tapi sekalipun tak pernah mengenal mereka. kehidupan semu, kenyataan pun dianak tirikan, dan televisi mengatasnamakan kebebasan untuk melakukan itu semua.

Demokrasi akan kebebasan selalu menjadi nyanian mereka, bahwa bebas berkarya adalah jurus ampuh mereka untuk meninju kenyataan.

Mereka membuai bocah-bocah itu dengan dongeng khayalan, mencadi candu, dan akhirnya bocah-bocah ini lupa akan kenyataan. bahwa malam ini belum makan, juga esok entah masih bisa sekolah atau tidak, bahkan lupa akan mimpi-mimpi mereka masing-masing.

Kebebasankah yang membantu khayal mengalahkan mimpi??

buatku itu bukanlah kebebasan, itu hanyalah cara mereka untuk mengelabui kenyataan. Mnecoba berlari jauh, berlindung pada dunia mereka masing-masing. dan lebih menjijikan lagi mengajak bocah-bocah yang apa adanya kedalam dunia mereka..

Kebebasan menurutku adalah seperti layang-layang...

Tanpa benang yang kokoh, layang-layang akan jatuh ketanah. Tanpa pegangan, prinsip, kebebasan akan jatuh. Dan akhirnya hanya menyisakan kemunafikan...

bebas berkarya, bebas bermimpi. namun hati lah yang sebenarnya menjadi benangnya, hingga kita bisa leluasa untuk menerbangkannya...

Terbanglah jauh, melihat banyak hal. Belajar banyak hal...
Mengejar mimpi-mimpi, di balik gerombolan awan...

Esok lusa, ketika angin tak lagi berhembus, ketika semuanya terasa cukup.
Kembali lah ke tanah basah ini...

Bebas...

Tentang Pertentangan


Hari masih pagi, kabut tipis belum beranjak pergi.
Menyelimuti dingin wajah-wajah yang berbasuh air.
Tiga hari ini, rekor baru telah kutorehkan, tiga hari bangun lebih pagi dari penghuni kost lainnya, berlomba dengan kabut pagi, mencoba mengais-ngais dingin lewat tetes-tetes air kran, dan melangkahkan pagi melewati kesunyian yang ditinggalkan malam…
Tiga hari ini aku bisa bangun untuk sholat shubuh di surau ujung gang, berangkat sebelum adzan selesai, sebelum setan berbisik mengajak kembali tidur, berselimut hangat..
Sisa-sisa energi ini, energi dari pemahaman baru tentang rumah, selalu berhasil mengusikku dari tidur, mengajakku melangkah menyusuri dinginnya pagi...
Hari-hari kemarin, tentang rumah, mengajariku banyak hal. Tentang indahnya rumah, tentang kesederhanaan, dan tentang indahnya penerimaan..
Energi ini sedikit memperluas ruang kecil di pusat hati. Memberi ruang untuk memikirkan banyak hal, tentang hidup, tentang goresan-goresan kisah yang mencoba untuk diartikan…
Juga tentang pertentangan. Tentang dia, gadis kecil berwajah sayu...
Terkadang, energi ini juga cukup untuk menenangkan hati, cukup untuk membelenggu goresan wajahnya. Meyakinkanku bahwa sekarang lebih baik begini. Tapi terkadang energi ini malah berbalik menikam. Mengajak berdiskusi, dan lagi-lagi keraguan itu muncul…
Energi ini, terkadang justru merapuhkanku…
Ah, ketika pagi datang, adzan subuh berkumandang, ada begitu banyak rasa tenang. Tapi bukankah ketika sepi kita akan lebih bisa mendengar sesuatu, apapun itu. Dan disetiap pagi, aku bisa lebih mendengar suara hatiku, ketika hati berteriak. Tentang pertentangan…
Dan Tuhan, mohon dengarlah teriakan hati ini…
Apakah ini doa? Entahlah, apa aku percaya dengan doa-doa.
Kemarin, ada teman yang tiba-tiba bertanya, "ngga, kamu rajin banget ke masjid akhir-akhir ini, pasti lagi ada maunya ya?"
Pertanyaan yang aku pun tak yakin akan jawabannya. Karena aku memang tak tau apa mauku. Aku hanya ingin menenangkan pikiran, mencoba melerai pertentangan. Dan energi dari rumah ini, selalu berhasil mengajakku untuk menepi sejenak ke surau ujung gang. Aku ingin Tuhan mendengarkan teriakan hatiku, bukankah Dia maha mendengar. Dan kemudian Dia bersedia untuk membisikan apa yang hatiku ucapkan, karena aku tak benar-benar mendengar teriakannya…
Mungkin yang temanku aneh dengan kerajinanku ini. Mungkin ia mengira aku rajin akhir-akhir ini karena sedang meminta sesuatu, lewat doa-doa..
Ah, aku hanya ingin menenangkan pikiran, agar aku bisa labih mendengar apa yang diteriakan hatiku…
Bukan untuk memanjatkan doa yang panjang-panjang. Karena sejujurnya aku tak begitu percaya akan doa-doa...
Bagiku, doa-doa hanyalah sebuah ritual untuk meyakinkan diri sendiri akan menjadi seperti apa hari esok. Karena takdir bukankah sesuatu yang sangat misterius dan rahasia. Tapi, bagiku doa-doa pun tak sanggup untuk mengubah takdir-takdir yang sudah ditulis jauh-jauh hari. Doa bagiku adalah bentuk lain dari optimisme akan hari esok, meyakinkan diri sendiri…
Takdir sudah ditentukan, kita hanya perlu menerima dan menjalaninya tanpa tau esok akan menjadi seperti apa takdir membimbing kita…
Dan aku yakin takdirku juga sudah tertulis, aku hanya perlu menerimanya…
Tapi aku terlalu takut, takut akan hari esok akan menjadi seperti apa. Ketakutan inilah yang melilit kakiku hingga sulit untukku melangkah. Apakah ini juga bagian dari takdirku?
Karena hidup adalah soal keberanian menghadapi takdir, juga soal penerimaan akan takdir. Hari kemarin, hari sekarang, dan hari esok…
Aku tak tau akan menjadi seperti apa takdirku dan takdirnya, dan aku terlalu takut, bahkan hanya untuk memikirkannya. Dan aku begitu takut untuk melangkahkan hari kaki, hingga aku terjebak pada pertentangan ini…
Apakah menjadi sahabat itu yang terbaik, ataukah hatiku mengingkinkan lebih dari ini…
Gadis kecil bermata sayu…
Tuhan, beri aku sedikit keberanian untuk melangkah, untuk menuju takdirku. Dan berilah ketulusan untuk menerima semua takdirku…
Untuk pertentangan hati, dan untuk adzan subuh yang telah lewat…

RUMAH SEDERHANAKU


Kita mulai dari pengertian rumah, mungkin pengertian rumah menurutku akan berbeda dengan pendapat kalian. Ah, hidup memang tentang perbedaan, namun terkadang kita dengan sombongnya tak mau mencoba untuk mengenal perbedaan itu. Rumah menurutku bukan sebuah kata benda, bukan sebuah obyek ataupun subyek, tapi rumah menurutku adalah sebuah predikat. Rumah menurutku bukan hanya sebuah benda yang beratap genteng, berdinding batu bata, memiliki pintu di depan atu jendela di samping. Tapi rumah menurutku hanya butuh sebuah ruang keluarga, bukan ruang secara konkrit, tapi ruang abstrak untuk menempatkan berbagai cerita, berbagai kisah. Rumah adalah tempat untuk pulang, hadiah bagi mereka yang mengarungi jauhnya jarak, dan lamanya waktu.
Dulu aku tak begitu mengenal apa itu rumah. Bagiku dulu, rumah hanyalah tempat untuk tidur, tempat untuk kembali dari sekolah, dari dunia luar, rumah hanyalah sebuah penjara dengan jadwal tetap, jadwal makan, jadwal tidur, jadwal pulang, ah, terlalu banyak jadwal…
Bagiku dulu, rumah hanyalah sebuah tempat yang konkrit untuk bersembunyi dari semua dunia luar, dari semua ketakutanku untuk hari esok. Aku selalu merasa rumah selalu menahan gerakku, selalu menahanku ketika ingin berlari. Rumah membelenggu semua keberanianku…
Tapi sbenarnya aku juga banyak ditolong oleh rumah, karena aku bisa lebih banyak mengenal kesepian, tapi sebenarnya justru aku tak mengenal apa itu rumah…
Mungkin memang benar adanya, kita akan lebih mengenal sesuatu ketika kita mencoba untuk melupakan. Bukan melupakan, tapi berdamai lebih tepatnya. Kalian pasti pernah kehilangan sebuah barang, kalian sibuk mencari-cari kemanapun, setiap sudut, tapi tak ada. Hilang entah kemana, seolah-olah bumi menalannya, menyimpannya pada sebuah ruang rahasia di bawah tanah. Tapi, ketika kalian sudah melupakannya, sudah berdamai, menganggapnya hilang entah kemana,ringan melanjutkan hari tanpa sibuk memikirkan barang itu, tiba-tiba barang itu sudah ada di depan mata, entah siapa yang menemukannya, atau mungkin memang benda itu tak pernah kemana-mana. Ah, indahnya berdamai…
Ketika aku mencoba untuk menjauh dari rumah, mencoba untuk lari, mencoba berdamai dan melupakan, justru rumah menarikku jauh kedalamnya. Tapi bukan rumah seperti yang dulu, pengertian rumah yang baru. Hidup memang selalu banyak hal-hal baru, bahkan dari hal-hal yang lama…
Semakin aku jauh melangkah, semakin lama aku pergi, rumah semakin jelas ada dikepala kecilku, semakin manis tersenyum. Dan aku bisa seikit mengenal rumah, samar-samar kudengar di telinga…
Awal aku pergi melangkah, mencoba menemukan banyak hal-hal baru, justru hal-hal lama, tentang rumah, menyadarkanku bahwa aku belum mengenal apa-apa, bahkan tentang rumah. Saat aku pulang ke rumah, ada perasaan lain yang kurasa, seperti bukan rumah yang dulu, ada sesuatu yang berbeda. Semakin lama, semakin jelas. Ah, aku ternyata memang belum mengenal rumah, bahkan sekarang pun hanya mampu kuartikan sedikit saja…
Sudah dua hari aku dirumah ini, rasanya semakin berbeda dari terakhir kali aku pulang. Aku merasa lebih bayak hal tentang rumah yang belum ku kenal…
Dua hari di rumah ini, memberiku banyak penjelasan…
Bahwa rumah bukan subjek atau pun objek, rumah bukan kata benda, tapi rumah adalah predikat, kata kerja. Akulah objeknya, akulah subjeknya, akulah kata bendanya…
Rumah adalah cinta, tentang keceriaan, berbagi, pengorbanan, kasih saying. Ah, terlalu banyak hal tentang rumah, kadang indah, kadang juga tak indah…
Tapi yang aku tau tentang rumahku adalah kesederhanaan...
Rumah sederhanaku ini terletak diperbatasan provinsi, ah kadang orang dari kabupatenku saja tak tau ada daerah tempat rumahku berada, ada desa di ujung barat. Mereka tak sadar kalau tanpa desaku ini maka tak akan jelas batas wilayah kabupaten mereka, tapi mereka memang selalu saja melupakan desa kami yang permai ini. Kebusukan pemerintah, tentang kesenjangan perhatian untuk kami orang-orang yang ada dibatas wiayah. Aku selalu benci membicarakan ini…
Tentang perbatasan ini, jika kau berteriak keras dari pinggir sungai besar samping rumah, maka jika ada orang yang menyahut di seberang sungai, maka itu adalah suara dari penduduk provinsi sebelah. Kami biasa menyebut mereka sebagai penduduk sabrang. Pelesetan dari kata seberang sebenarnya. Dulu aku sering memancing disitu, menangkap ikan, dan kalau sedang beruntung akan mendapat tangkapan yang paling berharga, udang. Sering juga aku bermain di pinggiran sungai, mencari jangkrik, serangga kecil untuk diadu kelahi atau adu bunyinya, semakin keras dan nyaring suaranya maka semakin bagus jangkriknya, jangkrik sungon. Autau kadang bermain sepak bola di penggiran sungai, berlari riang ketika ada peduduk pemilik lahan ketika tau lahan tempatnya bercocok tnam digunakan sebagai lapangan sepak bola. Pernah suatu hari kami riang bermain bola, tiba-tiba ada yang meneriaki kami dengan embawa parang panjang, pemilik lahan, dan kami pun lari terbirit-birit dengan riangnya, dan akulah tersangka utamanya. Kalau sedang kesal dengan pemilik lahan, maka kami meminta sediki hasil taninya, jagung, tapi tak pernah kami meminta secara langsung, mungkin kalian bisa menyebutnya seba pencurian kecil. Dan asal kalian tahu, jagung hasil curian itu lebih enak dari apapun, apalagi letika kalian memanggangnya bersama teman-teman. Kenakalan masa kanak-kanak. Dan yang lebih menggairahkan adalah ketika dengan bangganya memegang senapan angin, mengincar burung-burung kecil yang hinggap di pohon besar di pinggir sungai, saying dari sekotak peluru enhasilkan satu tangkapanpun. Oiya, sebelummengenal senapan angin, kami biasa menggunakan ketapel, hebat bukan. Dan rahasia kecil dari sungi kecil kami dulu adalah, ketika satu hari dalam satu tahun, entah pasal apa ikan-ikan seperti mabok, tabi bukan karena racun, tapi entah karena apa, biar menjadi rahasia kecil. Dan kami warga lembah sungai langsung mengadakan pesta penangkapan ikan secara besar-besaran, keceriaan dipinggiran sungai kami. Namun aku hanya berdiri di pinggir sungai, takut akan sungai besar dengan arusnya, karena memang biarpun anak sungai aku tak pernah bisa berenang, omelan bapakku selalu menghantui. Tapi ritual itu kini hanya tinggal cerita pengantar tidur saja, misteri itu entah hilang dimakan apa. Rahasia kecil tentang ritual bernama woro. Dan sekarang kecriaan tentng sungai itu telah tertinggal di belakang, menjadi bagian kecil dari potongan hidupku, bagian kecil dari pengertian rumah yang aku tau sekarang. Dan sungai itu hingga kini masih menjadi tumpuan hidup dari sebagian kami yang bertambang pasir di dasarnya.
Tiga rumah dari tanggul tinggi yang menahan air ketika banjir dari sungai itu, adalah rumahku yang sederhana…

Rumah


Kabut tipis menggantung, adzan subuh saling menyahut, kokok ayam saling berlomba. Ah, di jogja tak kan ada yang seperti ini, dan pasti aku saat ini masih asik dengan mimp-mimpi malam, dengan selimut kuning yang selama 3 tahun terakhir belum dicuci.
Dua hari lalu aku memutuskan untuk pulang kerumah. Dan itu menjadi kabar yang mengejutkan untuk semua kawan-kawanku di jogja yang merasa mengenalku. Ya, aku memang terkenal jarang sekali pulang, bahkan ada salah satu kawanku yang asal bertanya,' hei ngga, kamu sebenarnya punya rumah atau tidak? Jangan-jangan kamu sudah tak di anggap oleh orang tuamu?' Sambil tertawa memang, ah itu semua kan hanya candaan..
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku jelaskan pada kawanku itu, tapi aku teringat akan diskusiku dengan gadis bermata sayu, bahwa pengertian rumah menurut kita berbeda, ah, aku memang selalu berbeda dengan dia, itu juga yang selalu dia katakan..
Salah besar jika menyebut aku tak punya rumah, salah besar jika menyebut aku tak dianggap oleh orang tuaku. Karena asal kalian tau kawan, orang tuaku adalah orang tua terhebat yang ada di dunia ini. mamah adalah perempuan tercantik dan terkuat yang pernah ku tau, sedangkan bapak adalah pria yang paling bertanggung jawab yang pernah kutemui. Kasih sayang mereka benar-benar membuat iri siapapun, aku bak seorang raja kalau di rumah, benar rumah impian siapa saja..
Tapi pengertian rumah menurut kita berbeda. Menurutku,rumah adalah hadiah bagi siapa saja yang mengarungi jarak dan waktu, tempat yang paling sesuai untuk pulang. Semakin jauh menempuh jarak, semakin lama mengarungi waktu, rumah akan semakin terasa keberadaannya, dan ketika menapakan kaki di teras rumah, akan selalu ada rasa yang berbeda, rasa yang tak pernah terbayangkan
 Rumahku adalah rumah yang penuh cinta. Ada banyak keceriaan disini. Ketika beban hidup terlalu berat untuk dilewati, maka rumah akan menjadi obat yang sempurna. Duduk diteras rumah, bercengkrama dengan keluarga, bersalaman dengan tetangga, menjaga warung, adzan dan sholat di surau samping rumah, atau di masjid baru di depan rumah yang baru jadi, menikmati ribuan gemintang di atas langit malam, meresapi belaian angin malam, cengkrama anak-anak SD yang pulang sekolah, berlarian dan berkejaran, berdiskusi apa yang akan mereka lakukan setelah ini, mendengarkan dengan gemas rajutan adik kecilku yang minta di antar kemana lah, beli apalah, atau menikmati butiran air yang tumpah ruah dari atas langit, mengagum kekuatan langit yang bersinar terang, menunjukan akar-akar bercahaya di atas langit, kemudian di ikuti dentuman keras, menalahkan gemericik merdu air hujan. Ah, ada banyak hal di sini yang terlalu indah. Dan keindahan ini, benar-benar aku mengerti setelah jauh aku menempuh jarak, lama aku mengerungi waktu.. hadiah yang teramat indah..
Dulu aku tak peduli dengan semua itu…
Tapi aku juga tak akan lama di rumah, esok lusa aku akan kembali pergi. Bertemu dengan wajah-wajah baru, menapaki jalan yang baru, mengukir kisahku. Rumah memang dipenuhi banyak cinta, tapi aku hanya akan mengambil secukupnya saja, melahapnya hingga cukup kenyang. Aku tak akan mapu untuk menampung semua cinta yang ada jika aku terlalu lama di sini. Rumah itu seperti makanan ter enak yang pernah kalian cicipi, tapi jika makanan itu terlalu banyak kalian makan, apa rasanya masih akan sama enaknya? Mungkin malah kalian justru akan memutahkannya. Kerena itulah, ketika energy yang kudapat dari sini terasa cukup, maka aku akan kembali pergi, mengarungi cerita baru. Melihat banyak hal, mempelajari banyak penjelasan-penjelasan Tuhan..
Esok lusa, ketika hati ini kembali tenang, ketika aku benar-benar pantas untuk menentukan pilihan, ketika energy terasa cukup untuk kembali menggores cerita, aku akan kembali pergi, bertualang mengarungi hidup…
Menenangkan hati, menentramkan pikiran, semoga kelak apa yang aku pilih tak kan pernah aku sesali…
Secangkir kopi pagi ini…