Kamis, 02 Mei 2013

Catatan Perjalanan Pendakian G.Slamet (19-21 April 2013)

Gunung slamet adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Tertinggi ke dua di pulau Jawa setelah Semeru. Tinggi gunung slamet mencapai 3428 mdpl. Gunung Slamet merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia. Gunung ini terletak di kabupaten banyumas, purbalingga, dan tegal.
Dulu sewaktu kecil, saat bersepeda pagi-pagi ke sekolah diwaktu cerah sering saya melihat Gunung Slamet begitu megahnya menjulang tinggi. Jauh lebih tinggi dari deretan pegunungan disekitarnya. Dari rumah saya yang berjarak ratusan kilometer ini saya bisa melihat gunung slamet yang besar dan menjulang. Saya benar-benar kagum dibuatnya.

Semenjak saya menyukai kegiatan pendakian gunung, saya menjadikan Gunung Slamet sebagai gunung yang harus saya daki rimbanya. Di bulan Mei tahun lalu sebetulnya sudah ada ajakan dari beberapa teman, namun karena belum ada kesempatan saya memutuskan untuk menundanya. Di bulan desember tahun lalu sebetulnya saya sudah mulai merencanakannya, namun lagi-lagi urung, kali ini karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk mendaki gunung. Pun sama dengan bulan Februari tahun ini.

Akhirnya kesempatan itu datang lagi di akhir bulan april. Saya mendengar bahwa pendakian Gunung Slamet sudah dibuka lagi, karena cuaca sudah mulai mendukung. Akhirnya di awal maret saya mulai merencanakan pendakian gunung Slamet. Pertama-tama saya menentukan tanggal, yaitu tanggal 19-21 April 2013. Kemudian saya mengajak teman-teman yang berkeingian untuk mendaki gunung Slamet. Hingga akhirnya mendekati tanggal pendakian, jumlah anggota pendakian yang terkumpul ada 10 peserta. Yaitu: saya, Ucup, Atut (Perempuan satu-satunya), Arif, Panji, Annas, Bara, Galih, Sirin, dan Yanto.

Seminggu sebelum tanggal yang ditentukan, persiapan-persiapan pendakian dimatangkan, karena, mendaki gunung tanpa persiapan yang matang sama saja dengan bunuh diri. Mulai dari peralatan, logistik, transportasi menuju basecamp, dan merencanakan proses pendakian. Rencananya kami akan melalui jalur pendakian gunung slamet via bambangan. Kebetulan ucup juga sudah dua kali melewati jalur ini. Semua peseta pendakian akan berangkat bersama dari jogja kecuali yanto, karena yanto berangkat dari purbalingga. Seminggu sebelum tanggal yang ditentukan cuaca jogja cukup cerah, mudah-mudahan sama halnya dengan di gunung Slamet.

Akhirnya tanggal yang ditentukan datang juga. Jum'at pagi, 19 April 2013, anggota pendakian berkumpul di kost saya. Kami akan berangkat bersama-sama dari jogja. Masing-masing peserta ternyata membawa tas carier, tas besar khusus pendakian, kecuali atut -karena perempuan sendiri- hanya membawa tas semi carrier. Setelah pembagian tugas membawa logistik kelompok dan tenda dome akhirnya pukul 09.30 kami bersembilan meluncur dari jogja menuju basecamp pendakian gunung slamet di purbalingga menggunakan lima motor.

Gambar 1. Foto di depan kost saya, sebelum meluncur menuju basecapm pendakian
Dari jogja kami harus menempuh sekitar tujuh jam naik sepeda motor untuk mencapai basecamp pendakian di purbalingga. Untuk sampai di purbalingga, kami menempuh jalur utara, namun Kami melewati beberapa jalan alternatif. Dari jogja kami menuju candi borobudur, kemudian lenjut lewat kepil. Jalan kepil ini adalah jalan alternatif yang sangat rusak parah. Namun ini lebih baik dari pada harus memutar lewat temanggung meskipun dengan kondisi jalan yang jauh lebih manusiawi.
Pukul 12.00 kami mampir di kepil terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat jum'at. Jalan alternatif kepil benar-benar tidak manusiawi. Jalan naik turun berkelok-kelok diperparah dengan lubang disana sini. Dibeberapa bagian jalan hanya bisa dilalui satu lajur saja. Sehingga beberapa kendaraan harus terpaksa bersabar antri, menunggu kendaraan dari arah berlawanan untuk lewat terlebih dahulu.
Setelah berhasil keluar dari kepil kemudian kami sampai di wonosobo, pertigaan kretek lebih tepatnya. Sebelum pertigaan kretek kami mengambil jalan ke-kiri, jalan alternatif, sehingga kami tidak harus memutar melewati kota wonosobo. Jalan alternatif ini lebih manusiawi dibandingkan jalan kepil. Dibeberapa bagian memang rusak dan terdapat banyak lubang, namun lebih banyak lagi bagian yang bagus.
Keluar dari jalan alternatif ini kami kemudian menuju Banjarnegara. Jalan Wonosobo-banjarnegara tidak terlalu buruk meskipun masih terdapat beberapa bagian yang berlubang. Jalannya lumayan berkelok-kelok. Namun jalan yang sempit ditambah kendaraan yang padat cukup menyulitkan kami. Beberapa kali kami harus berusaha untuk menyalip mobil-mobil besar. Jalanan ini lumayan naik turun, melewati beberapa lembah. Beberapa kali saya dapat menjumpai pemandangan yang cukup elok, bahkan pada sebuah kesempatan saya menjumpai sepasang raptor (burung pemangsa, bisa elang ataupun alap-alap) sedang swaring (terbang memutar) diatas lembah yang lumayan dekat, tidak terlalu tinggi, sehingga saya dapat melihatnya cukup jelas. Namun sayang saya tidak membawa binoculer sehingga sulit untuk saya mengidentifikasi jenis raptor yang saya lihat. Dari banjar negara kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju purbalingga.
Pukul 16.30 akhirnya kami sampai di kota purbalingga. Di kota ini kami mampir sejenak untuk istirahat, makan, juga sholat ashar. Ucup sebagai penunjuk jalan sekaligus warga pribumi purbalingga mengajak kami makan di mie ayam kriuk di kota purbalingga. Sambil mengistirahatkan pantat yang panas karena harus duduk di sepeda motor melewati perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, kami mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Mengisi kembali energi. Karena menurut ucup, dari purbalingga menuju basecamp Bambangan masih sekitar satu jam lagi.

Gambar 2. Mampir sejenak di mie ayam kriuk purbalingga (Saya jadi korban sebagai tukang foto)
Setelah perut kenyang, perjalananpun kembali dilanjutkan menuju basecamp pendakian bambangan. Jalan menuju basecamp sudah mulai menanjak, beberapa kali bahkan harus melewati tanjakan yang cukup curam. Sampai-sampai sepeda motor yang saya tumpangi bersama arif harus berjuang ekstra keras untuk dapat naik. Seperti kebanyakan daerah pegunungan, dengan jalan yang naik turun dan berkelok-kelok, pemandangan yang saya dapat juga cukup keren. Kami harus melewati beberapa perkampungan, hutan pinus, dan yang lebih eksotis lagi adalah perkebunan stoberi. Disebelah kiri jalan hutan pinus, dan disebelah kanan jalan kebun stroberi membentang cukup luas dengan latar dinding bukit yang hijau. Benar-benar pemandangan yang sangat eksotis. Udara segar dan dingin sudah mulai bisa saya rasakan. Kehidupan asri di daerah pegunungan. Mendekati basecamp kami disambut oleh gerimis.
Pukul 18.00 akhirnya kami sampai di basecamp pendakian gunung Slamet via Bambangan. Sesampainya dibasecamp kami dikejutkan dengan kondisi basecamp. Basecamp slamet ini jauh berbeda dengan basecamp pendakian gunung pada umumnya. Dari beberapa gunung yang sudah saya kunjungi, basecamp nya sangat sederhana khas rumah-rumah orang desa. Kebanyakan berupa sumah yang dilengkapi dipan raksasa dengan lantai tanah. Menurut pengalaman saya, basecamp merbabu lewat jalur wekas adalah basecamp yang paling bagus dibandingkan basecamp pendakian gunung lainnya yang pernah saya kunjungi seperti merapi, sindoro, sumbing, dan lawu. Namun rekor itu terpatahkan, karena basecamp slamet via bambangan jauh lebih bagus dari basecamp beberapa gunung yang pernah saya kunjungi. Bahkan kalau boleh saya bilang, basecamp ini lebih bagus dari rumah saya sendiri apalagi kost-kostan saya. Basecamp slamet via bambangan adalah rumah permanen dengan lantai keramik yang masih baru dan kokoh serta luas. Belum lagi pelayanan yang diberikan, setibanya kami di basecamp langsung disediakan air panas untuk membuat minuman hangat serta diajak ngobrol oleh penjaga basecamp. Di basecamp ini kami melakukan regristrasi pendakian dengan membayar Rp. 6.000,- dan membayar parkir Rp. 5.000,- @ sepeda motor. Kami akan melakukan pendakian siang, sehingga malam ini kami bermalam dibasecamp. Hujan sudah mulai turun bersama udara dingin yang menusuk tulang.
20 April 2013
Pukul 05.00 kami semua terbangun. Hujan sudah lama reda dan pagi ini langit terlihat cerah. Puncak gunung slamet terlihat megah, jelas terlihat dari basecamp. Udara pagi ini benar-benar dingin, khas daerah pengunungan. Apalagi sepagi ini harus menyentuh air untuk wudhu, sholat subuh. Sambil menggigil saya memngucap syukur sambil mata tak hentinya memandangi keeolkan puncak Slamet yang terlihat gundul.
Pukul 07.15, kami bersiap-siap untuk menapakkan kaki menggapai puncak Slamet yang kami lihat tadi pagi. Sebelumnya kami sudah mengisi energi dengan sarapan di basecamp (9 ribu untuk nasi sayur+Telor+mendoan+teh anget). Tim pendakian juga sudah lengkap, tadi pagi yanto, salah satu anggota pendakian yang berangkat dari purbalingga sudah datang. Akhirnya setelah persiapan sudah siap, kami pun meluncur melangkahkan kaki. Dan sebelum itu saya meneriakan kode etik pegiat alam, sebuah kode etik yang akhir-akhir ini sudah mulai dilupakan oleh para pendaki gunung.
1)      Take nothing but picture (tidak mengambil apapun kecuali gambar)
2)      Leave nothing but trace (tidak meninggalkan apapun kecuali jejak)
3)      Kill nothing but time (tidak membunuh apapun kecuali waktu)
4)      Burn nothing but spirit (tidak membakar apapun kecuali semangat)

Gambar 3. Sesaat sebelum pendakian
Untuk mencapai gunung slamet harus melewati delapan pos terlebih dahulu. Dari basecamp menuju pos I adalah lahan pertanian milik penduduk. Naik sedikit dari basecamp kami disambut oleh gapura pendakian gunung slamet via bambangan. Jalur pendakian berada disebelah kiri jalan dari gapura tersebut. Jalanan mulai sedikit menanjak dan sudah merupakan jalan setapak. Jalanan ini melewati lahan-lahan penduduk. Cuaca pagi ini sangat cerah, jalan sedikit saja keringat sudah mulai bercucuran. Terus mengikuti jalan kemudian kami keluar dari lahan penduduk dan mulai memasuki hutan cemara. Hutan cemara ini sangat terbuka, sehingga belum mampu melindungi kami dari terik matahari. Suara burung-burung terdengar ramai di kanan dan kiri jalur pendakian, namun sayang burung-burung tersebut sulit diamatai karena hinggap disemak-semak dan entah di pohon yang mana. Saya juga sempat beberapa raptor swaring jauh di atas hutan.
Pukul 08.40, akhirnya kami mencapai pos I. Pos I ternyata bernama pondok gembirung. Dari basecamp dampai pos I ternyata sudah cukup melelahkan, keringan sudah menemukan jalan keluarnya. Di pos I ini terdapat bangunan yang beratap seng dan dindingnya juga dilingkupi seng untuk menahan angin. Kami sitirahat sebentar di pos I. pos I ini adalah pintu gerbang menuju hutan yang sesungguhnya, hutan yang benar-benar eksotis. Di pos I ini saya juga disuguhi pemandangan yang sangat eksotis, beberapa raptor terlihat swaring sangat dekat dengan pos I. bahkan salah satu raptor swaring tepat di atas kepala saya, bahkan saya sampai histeris sendiri. Tebakan saya raptor yang swaring di atas kepala saya adalah elang hitam, dilihat dari ukuran, waarna badan dan paruh, juga bentuk sayapnya. Saya juga disuguhi oleh atraksi keberanian burung srigunting yang mengusir raptor tadi. Sungguh burung kecil yang berani.



Gambar 4. Pos I, Pondok Gembirung
Pukul 08.45, Puas beristirahat kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan gunung Slamet. Hutan gungun Slamet berbeda dengan kebanyakan hutan di gunung-gunung di Jawa Tengah dan DIY. Kebanyakan hutan di merapi, merbabu, sindoro, sumbing, mauun lawu hanya berupa hutan homogen yang biasanya terdiri dari pohon cemara gunung dan tidak terlalu lebat. Hutan gunung slamet adalah hutan heterogen dengan pohon yang sangat besar-besar, belum lagi dengan semak belukar. Hutan ini sangat melindungi kami dari terik matahari, teduh. Hutan yang sangat lebat ini jelas saja menjadi tempat yang cocok untuk berbagai jenis burung. Suara burung terdengar ramai di kanan dan kiri jalur pendakian. Namun sayang saya sama sekali tak dapat menemukan burung-burung tersebut. Hanya ocehan mereka yang setia menemani pendakian kami. Jalur pendakian dari pos satu ini benar-benar sempit, berbeda dengan gunung-gunung lain.
Pukul 09.50, akhirnya sampai juga di pos II. Pos II bernama pondok walang. Di pos ini tidak terdapat bangunan seperti di pos I, tapi merupakan lahan luas untuk kamping. Saat kami tiba disini juga terdapat kamping milik pendaki dari jakarta. Di pso ini kami hanya istirahat sebentar, kemudian pukul 10.00 kembali melanjutkan perjalanan.



Gambar 5. Pos II, Pondok Walang
Dari pos II hutan yang kami lalui semakin lebat saja. Burung-burung masih terdengar ramai, namu sudah tidak saya jumpai lagi raptor yang swaring. Mungkin karena jarak pandang tertutup oleh pohon-pohon besar. Mulai dari pos II ini tim juga terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berjalan cepat di depan, terdiri dari bara, annas, galih, sirin, dan yanto. Sementara itu saya bergabung dengan kelompok dua yang berjalan santai di belakang, terdiri dari saya, ucup, atut, panji, dan arif. Jalur pendakian memang sempit dan menanjak, cukup menguras energi. Namun, saya rasa tidak ada percabangan, hanya ada satu jalur pendakian, walaupun susah.
Pukul 11.15, akhirnya kami -kel dua- sampai di pos III. Pos III bernama pondok cemara. Saya bertanya-tanya kenapa pos III ini dinamai pondok cemara karena disini sama sekali tak ada pohon cemara. Sama seperti di pos II, di pos III ini juga hanya terdapat lahan untuk camping, bukan bangunan. Namun, lahan campingnya cukup luas, mungkin bisa menampung 3 sampai 4 tenda dome. Di pos III ini juga terdapat sumber mata air, namun untuk mengambil air di pos ini harus turun terlebih dahulu ke bawah. Kami hanya istirahat sebentar di sini, kemudian pukul 111.20 melanjutkan perjalanan.



Gambar 6. Pos III, Pondok Cemara
Kelompok satu dan dua sudah berjarak sangat jauh. Kami kelompok dua sudah tidak bisa mendengar lagi jejak-jejak kelompok satu. Hutan semakin lebat saja. Sebenarnya burung-burung masih terdengar cukup ramai di kanan dan kiri jalur pendakian namun karena konsetrasi yang sudah menurun dan badan yang semakin lelah, saya sudah tidak begitu mempedulikannya. Beberapa anggota kelompok dua sudah terlihat begitu kepayahan, karena jalan semakin menanjak saja, apalagi dengan jalan setapak yang sempit. Bahkan beberapa kali saya harus merayap karena menghindari semak ataupun pohon tumbang. Menurut cerita ucup, dari pos III ini terdapat terowongan cinta, namun entah yang mana terowongan cinta itu. Karena terlalu banyak terowongan dengan semak belukar yang kami lewati.
Pukul 12.15, kami sampai di pos IV, Pondok Samarantu. Samarantu berasal dari kata samar dan hantu yang artinya hantu samar-samar. Menurut cerita-cerita pos IV ini adalah titik angker dari jalur pendakian gunung Slamtet. Tidak terdapat bangunan di sini, tapi terdapat lahan yang cukup luas untuk camping, mungkin cukup untuk 2 sampai 3 tenda dome. Namun dengan riwayat cerita pos IV saya kira jarang ada pendaki yang berani camping dan mendirikan dome di pos ini. Kami langsung melanjutkan perjalanan.

Gambar 7. Atut berpose di pos IV, Samarantu
Perjalanan dari pos IV ini sudah mulai terbuka. Pohon-pohon besar sudah terlihat jarang, namun masih menyisakan semak belukar disana-sini juga pohon-pohon kecil. Cuaca masih cukup cerah namun kabut sesekali bergerak mengalangi jalan, tapi hawa dingin yang dibawanya cukup menyegarkan badan yang mulai kepayahan. Jalanan masih sangat menanjak sementara perut kian keroncongan saja, rasanya energi dari nasi rames di basecamp tadi sudah terkuras habis.
Pukul 12.45 akhirnya kami sampai juga di pos V, pondok mata air. Sesuai namanya di pos ini terdapat sumber mata air yang terletak agak turun kebawak, ke arah barat. Saya turun untuk mengambil air wudhu sekaligus mengisi persediaan air. Airnya sangat jernih, saat saya menyentuh air tersebut rasanya seperti sedang menyentuh air kulkas. Sangat dingin. Bahkan dinginnya sampai menusuk-nusuk tulang. Bahkan ketika saya mencoba naik lagi ke pos V, kaki saya sampai kram karena begitu dinginnya air tersebut. Di pos V terdapat bangunan -lebih kecil dari pos 1-. Kelompok satu dan dua bergabung kembali di pos V ini. Di pos V terdapat banyak sekali sampah yang menumpuk. Rasanya kode etik pegiat alam hanya sebatas slogan semata. Setelah menghabiskan beberapa makanan kecil serta sholat Dzuhur yang dijamak sekalian dengan Ashar kami kembali melanjutkan perjalanan. Pukul 14.00 kami kembali melanjutkan perjalanan.

Gambar 8. Pos V, pondok mata air
Dari pos V ini kelompok dibagi menjadi dua kembali. Namun di kelompok dua tinggal menyisakan saya, ucup, dan atut. Panji dan arif akhirnya harus ikut di kelompok satu karena di tas carrier mereka terdapat perlengkapan membuat dome. Sebetulnya saya sedikit kasihan dengan panji, karena sepertinya fisiknya sudah sangat lemah, namun harus mengikuti kelompok satu yang bertenaga kuda dengan langkah yang capat. Sementara itu, kelompok dua berjalan amat santai di belakang. dari pos V sudah mulai meninggalkan hutan. Sudah tidak ada lagi pohon-pohon besar, hanya terdapat semak belukar dan pohon-pohon kecil serta beberapa pohon tumbang, sepertinya pohon-pohon bekas kebakaran. Kabut mulai menemani perjalanan kami. Jalannan masih saja menanjak.

Gambar 9. Jalur pendakian setelah pos V
Pukul 14.15 kami sampai di pos VI, Samyang Jampang. Ternyata jarak dari pos V ke pos VI hanya sebentar saja, hanya 15 menit perjalanan. tidak seperti jarak antar pos lainnya. Di sini hanya terdapat lahan kecil dengan pohon tumbang, mungkin hanya cukup untuk satu buah tenda dome saja.

Gambar 10. Pos VI, Samyang jampang
Istirahat sebentar di pos VI ini kemudian pukul 14.20 kami kembali melanjutkan perjalanan. Jalur pendakian masih naik dengan semak belukar serta pohon-pohon kecil di kanan dan kiri jalur pendakian. Saya sempat melihat sekumpulan burung opior jawa berkicau dan terbang disekitar jalur pendakian. Namun karena kondisi fisik dan konsentrasi yang semakin menurun saya sudah tidak begitu mempedulikannya. Rasanya ingin cepat-cepat sampai di pos VII untuk istirahat apalagi jalanan sangat menanjak dan sempit. Dengan kondisi fisik yang sudah menurun serta kabut yang menemani sepanjang perjalanan dari pos V saya mulai menjadi sedikit romantis, pun sama denga ucup. Kami mulai berpuisi, meracau tak jelas. Beberapa kicauan dari ucup "menjadi satu dengan putih, maka tak ada lagi beda, seperti menghilang di dalam kabut". "saya beritahukan kepadamu kawan, tak akan ada kedamain di puncak gunung, karena kedamaian berada di jejak-jejak ketika mencapainya, ketika kalian berjalan".
Pukul 15.00 akhirnya kami sampai di pos VII, Samyang kendit. Di pos ini terdapat bangunan seperti di pos V, namun dengan kondisi yang sedikit lebih buruk. Terdapat lubang di beberapa bagian atap dan samping. Kami memutuskan untuk membuat tenda dome di pos ini, sebenarnya dome sudah selesai di pasang ketika kelompok dua sampai di pos ini. Satu dome yang bagus di pasang di luar (kapasitas 6) sementara dome yang jelek di pasang di dalam bangunan (kapasitas 4). Saya dan kelompok dua di tambah dengan arif harus lkhlas beada di tenda dome yang jelek, meskipun akhirnya justru tenda dome kamilah yang lebih nyaman dari pada tenda dome bagus yang dipasang di luar.



Gambar 11, pos VII, samyang kendit
Setelah dome selesai di buat kami pun mulai memasak di sini. Saya dan annas bertuga sebagai koki kali ini. Perut-perut yang keroncongan dan fisik yang sudah terkuras sudah meminta jatahnya. Suasana hangat mulai terasa, mengalahkan hawa dingin yang menyelimuti sedari tadi. Suara sendok yang saling beradu, juga tawa dan teriakan canda sambil makan. Memori seperti ini yang selalu saya rindukan dalam mendaki gunung. Sungguh benar-benar hangar bercanda bersama.



Gambar 12. Memasak dan makan-makan di pos VII
Setelah itu kami menikmati lam di pos VII, duduk menunggu senja. Menikmati hawa dingin sambil bercanda bersama. Di pos VII ini sudah berada di atas awan, beberapa kali suara gemuruh terdengar di bawah, petir tentunya. Di pos ini juga sudah terdapat bunga edelweis, namun sayang pada bulan-bulan ini bunga yang menjadi lambang cinta abadi dan hanya tumbuh di puncak gunung tersebut belum mekar. Hari semakin sore dan gelap, udara kian dingin menusuk. Akhirnya hujan sudah mulai turun. Setelah sholat magrib yang kembali dijamak dengan isya, kami memutuskan untuk istirahat. Besok dini hari harus sudah bangun untuk summit atack, mengejar sunrise di puncak Slamet.
21 April 2013
Pukul 02.00 saya dibangunkan oleh ucup. Kemudian semua anggota pendakian lainnya pun mulai dibangunkan. Saatnya untuk persiapan melakukan summit attack. Barang-barang yang tidak perlu dan berat seperti tas carrier dan tenda dome di tinggal di pos VII. Kami hanya membawa logistik siap makan seperti roti dan makanan ringan. Jangan lupa juga untuk membawa air minum, baik itu air mineral maupun air penambah energi. Saran saya, ketika naik gunung jangan lupa untuk membawa coklat dan membuat nutrijel. Semua logistik dimasukan pada satu tas semicarrier dan dua buah botol berisi nutrijel yang saya buat sebelum tidur semalam. Cuaca sangat cerah, hujan sudah lama reda sedari malam tadi. Bimntang bertaburan, di langit dan di bumi. Ya, cuaca yang cerah memungkinkan kita dapat mnikmati keindahan dunia modern yang berhasil menemukan lampu. Susunannya acak, dan tak kalah indahnya dengan bintang alami yang terbentang di langit. Menyinari gelapnya malam.
Pukul 03.00 kami siap untuk melakukan summit attack. Namun sayang panji tidak bisa ikut karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Kemungkinan ia terserang montain sickness, sebuah penyakit di ketinggian gunung. Begitulah yang namanya naik gunung, terkadang kita harus tahu kapan waktunya untuk stop, dan lanjut. Dan saya pikir keputusan panji untuk tidak ikut summit atack sangat bijak.
Udara dini hari yang benar-benar menusuk tulang, gemintang yang bertaburan di langit dan bumi, juga angin malam yang berhembus mesra mengantarkan langkah kami menjejak puncak slamet. Dari pos VII ini kelompok kembali terbagi dua, namun dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kelompok satu terdiri dari bara, annas, galih, sirin, dan yanto. Sementara itu kelompok dua terdiri dari saya, ucup, atut, dan arif. Total ada sembilan orang dari kelompok kami ini yang berjalan menuju puncak. Sepertinya kami kelompok pertama yang bergerak menuju puncak.
Setelah pos VII sebenarnya masih ada pos VIII, namun di gelap malam saya idak menemukan pos VIII ini. Saya baru menemukan pos VIII ketika turun. Pos VIII bernama samyang ketebon. Dari pos VII ke pos VIII jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin hanya 10 menit perjalanan saja. Vegetasi yang kami hanya terdapat semak dan rumput khas puncak gunung serta beberapa pohon kecil. Beberapa pohon edelweiss tumbuh di kanan dan kiri jalur pendakian, namun lebih banyak lagi yang tumbuh di lembah-lembah gunung. Kondisi jalan juga semakin menanjak saja. Kami terus berjalan dengan napas yang memburu karena oksigen yang kian menipis serta udara dingin yang menusuk tulang. Namun pemandangan langit dan perumahan di bawah benar-benar mengagumkan, cukup menghibur dan menjadi penyemangat.
Pukul 03.20 kami akhirnya sampai di pelawangan. Disini kelompok satu dan dua kembali bergabung. Di pelawangan inilah merupakan batas vegetasi. Biasanya orang menyebutnya sebagai batu merah. Karena mulai dari sini jalur pendakian sangat terjal dan hanya terdiri dari batu-batuan merah yang beberapa diantaranya labil. Untung cuaca saat itu cerah, tak bisa saya bayangkan kalau terjadi badai.
Hari yang masih gelap dan hanya mendapat penerangan dari senter sedikit menyulitkan proses mendaki batu merah ini. Puncak gunung slamet masih belum terlihat. Dari pelawangan ini, kita harus pintar-pintar mencari jalur sendiri. Patokannya adalah kita berjalan diantara jurang, jadi kanan dan kiri kita jurang. Jika terlalu kanan maupun terlalu kiri akan berakibat vatal. Di sebelah kanan di atas pelawangan terdapat in memoriam, mungkin milik pendaki yang meninggal di gunung slamet.
Beberapa kali kabut turut sedikit mengurangi jarak pandang juga membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Suara gemuruh petir juga beberapa kali saya dengar dari sebelah timur. Sekarang kami sudah-benar-benar di atas awan. Beberapa kali batu labil yang terinjak longsor kebawah. Selain harus berhati-hati dan waspada, jarak antar pendaki juga jangan terlalu dekat. Harus bisa menjaga jarak. Saya dan ucup berada di belakang sendiri, menjadi sweeper.
Pukul 04.30, setelah sempat meliat sebuah meteor menggores langit akhirnya kami sampai di puncak gunung slamet. Di tanah tertimggi jawa tengah. Masih terlalu pagi saat kami datang kesini. Mentari sama sekali belum terlihat, bahkan kami masih bisa mencari-cari beberapa konstelasi bintang. Jangan tanya suhu di puncak, sangat dingin kawan. Bahkan kami masih belum berani ke atas puncak. Kami masih menunggu di punggung puncak, berlindung pada bebatuan dari angin yang benar-benar dingin.
Setelah rasa lelah mencapai puncak cukup mereda, kami sholat subuh berjamaah dalam dingin. Sungguh tak ada yang bisa mengalahkan sensasi sholat subuh di puncak gunung. Dengan badan yang bergetar menahan dingin, kami berdiri menghadap Tuhan dari tanah tertinggi. Beberapa kali bahkan saya tak bisa mengucapkan lafal sholat dengan fasih karena sambil bergetar menahan dingin. Kalian harus mencobanya kawan.
Setelah selesai sholat kami duduk berkumpul menunggu mentari terbit di ufuk barat. Masih di punggung puncak, karena rupanya suhu di puncak dengan anginnya masih terlalu ekstrim. Sambil mengigil kedinginan -bahkan beberapa saling berpelukan- kami bercanda dan menunggu semburat merah yang melukis langit.

Gambar 13. Sedang berjuang menahan dingin di puncak slamet
Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Semburat jingga mulai menggaris langit sebelah timur. Beberapa bukit dan gunung mulai nampak. Dibawah, terlihat lautan membentang luas, indah seperti gumpalan kapas. Dan kami sedang berada di bawahnya. Rumah-rumah terlihat pada lautan awan. Bukit-bukit hijau yang tersamarkan kabut tipis yang membiaskan cahaya mentari pagi benar-benar istimewa. Ucap syukur karena kami berkesempatan menikmati momen yang sungguh luar biasa ini. Maha suci Allah SWT dengan segala ciptaannya ini. Keindahan yang tak kan pernah bisa di rangkum dalam kata, digambarkan dalam kanfas, dan di abadikan oleh kamera. Hanya mata dan ingatan yang sanggup merekamnya, anugrah dari Tuhan yang maha Esa. Di ujung timur, di balik lautan awan, samar-samar saya bisa melihat gunung sindoro, sumbing, merapi, dan merbabu. Indah berlatarkan jingga. Di sisi utara saya bisa melihat gunung ceremai berdiri kokoh. Cuaca benar-benar cerah.









Gambar 14. Suasana menunggu pagi di puncak slamet
Pagi semakit hangat, mentari terlihat semakin tinggi. Baru saja saya matahari yang baru merekah merah sudah terlihat penuh. Saatnya untuk naik kepuncak gunung slamet yang sebenarnya. Udara sudah tak sedingin tadi pagi. Teman-teman yang lain juga sudah mulai ribut berfoto ria. Saya masih tertegun takjub dengan pemandangan di sebelah timur. Lembah dan bukit yang tertutup kabut tipis. Seperti lembah sicuan pada film-film cina, kata ucup. Saya sadar, bahwa saya sedang berada di tanah tertinggi jawa tengah, berada di atas awan. Sungguh pemandangan yang amat mengagumkan. Saya meresapi semua itu dengan seluruh jiwa saya.
Puncak gunung slamet sangat luas. Terdapat kawah ditengahnya. Sebenarnya turun sedikit kita akan menjumpai puncak triangulasi, namun puncak triangulasi terlalu dekat dengan bibir kawah. Letaknya juga lumayan jauh dari tempat saya berdiri sekarang. Udara semakin hangat, menambah romantis suasana dipuncak. Saatnya untuk enikmati semua kedamaian ini hingga tuntas, sambil mengisi perut dengan makanan ringan yang tadi kami bawa. Dengan makanan di tangan, suasana semakin riang.




Gambar 15. Suasana puncak yang riang
Pukul 06.30, setelah puas menikmati suasana puncak gunung slamet kami memutuskan untuk turun. Menuju kembali pos VII, tempat kami meninggalkan panji dan semua barang-barang pendakian. Suasana semakin cerah dan panas. Jika turun dari puncak terlalu siang saya takut kalau-kalau kabut sudah mulai turun dan menghalangi jarak pandang, padahal seperti yang sudah saya katakan, trek dari pelawangan ke puncak begitu curam dan medan berupa batu yang beberapa labil. Akan sangat susah jika kabut turun.
Naik dan turun dari puncak slamet sama susahnya. Seperti saat naik, saat turunpun membutuhkan kehati-hatian dan konsentrasi. Kita harus pintar-pintar memilih jalur. Jangan sampai terperosok ataupun salah jalur. Sebab, di kiri dan kanan adalah jurang, jangan sampai tersasar dan keluar dari jalur.
Saat turun, kami berpapasan dengan banyak sekali pendaki yang baru akan muncak. Rupanya tadi sepi karena kamilah kelompok pertama yang mencapai puncak. Di gunung, semua orang menjadi saudara dan kawan lama. Setiap orang yang bertemu pasti saling menyapa dan bertukar semangat. Sungguh pemandangan yang mengasyikan. Saat saya sudah mencapai pelawangan, masih saya dengar teriakan-teriakan semangat dari kelompok-kelompok yang sedang berjuang menuju puncak. Salah satu hal yang selalu membuat saya rindu naik gunung. Akhirnya pukul 07.30 kami kembali sampai di pos VII.
Setelah packing, pukul 09.00 kami turun dari pos VII. Saya memutuskan untuk memasak (sarapan) di pos V, karena kami sudah kehabisan air bersih. Jarak dari pos VII ke pos V tidak terlalu jauh, apalagi saat turun waktu tempuh bisa lebih cepat dua kali lipat.


Gambar 16. Bersiap-siap turun dari pos VII
Kelompok mulai terbagi dua lagi. Seperti biasa, saya tergabung dalam kelompok dua yang berjalan santai dibelakang. Pukul 09.45 kami sampai kembali di pos V, pos mata air. Kami memutuskan untuk memasak disini. Namun, annas, galih, sirin, dan yanto memutuskan untuk turun terlebih dahulu. Karena mereka ada urusan, dan tidak ikut kembali ke jogja. Akhirnya hanya tersisa saya, ucup, atut, panji, arif, dan bara di pos V. kami akan masak dan sarapan dulu di pos V sebelum turun ke basecamp.
Persediaan logistik yang tersisa kembali dikeluarkan, bersama dengan alat-alat memasak seperti kompor mini, nasting, dan botol gas kecil. Menu kali ini adalah tumis kacang panjang, tumis labu, sarden, dan mie instan sebagai sumber karbohidrat. Dalam mendaki gunung logistik adalah barang yang sangat penting, terutama untuk menambah energi. Jadi, kalau bisa jangan hanya membawa mie instan.


Gambar 17. Memasak dan makan-makan di pos V, sebelum turun.
Pukul 10. 45, setelah packing dan perut terisi kami bersiap untuk turun ke basecamp. Jangan lupa buat semua sampah kembali dibawa turun. Leave nothing but trace, setidaknya kode etik tersebut kita terapkan mulai dari diri kita sendiri, karena kode etik bukan hanya slogan semata. Butuh sebuah tindakan nyata sebagai perwujudannya. Dari rangkaian pendakian gunung, bagian tersulit adalah turun gunung. Selain karena kondisi fisik dan konsentrasi yang sudah sangat menurun, tidak adanya passion atau tujuan puncak seperti saat naik merupakan faktor yang membuat bagian turun terasa berat. Waktu tempuh turun memang jauh lebih cepat dari pada saat naik, namun rasanya -menurut saya- terasa jauh lebih berat saat turun gunung. Walaupun barang bawaan lebih ringan dari pada saat naik, tapi beban di kaki rasanya jauh lebih berat. Mungkin karena kaki harus menumpu dan mengerem saat turun. Kemampuan kaki dan lutut benar-benar dieksploitasi. Oleh karena itu, buat kalian yang berencana naik gunung, jangan lupa menyisakan separuh energi untuk bagian turun gunung. Jangan semua energi dihabiskan untuk menuju puncak kawan. Beberapa kali kami de kelompok dua harus jatuh dan duduk mengeluh merasakan kaki yang kian lemas dan mati rasa saja. Pukul 15.00 akhirnya saya mencampai basecamp kembali. Rasanya benar-benar lega bisa melihat basecamp lagi.









Gambar 17. Keriangan saat turun ke basecamp
Pukul 17.00, setelah istirahat sejenak akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang kejogja. Keputusan yang sangat berani menurut saya, mengingat kondisi fisik yang sudah sangat menurut dan lelah luar biasa, sebenarnya tidak memungkinkan untuk berkendara jarak jauh. Setelah melewati perjalanan pulang penuh keceriaan, membawa bahagia dari puncak slamet, serta panji dan atut yang sempat jatuh dari motor di banjarnegara, akhirnya pukul 24.00 kami sampai kembali di Jogja. Bersiap untuk kembali menghadapi kenyataan. Tiga hari kemarin, saya sudah cukup mengecharge ulang energi positif di puncak gunung dengan semua kisahnya. Saatnya kembali pada rutinitas nyata di kehidpan nyata. Gunung bukan tempat untuk lari dari masalah, tapi tempat untuk mengumpulkan kembali semangat untuk menghadapi masalah di dunia nyata. Esok, pasti saya akan sangat merindukan momen-momen yang sangat berkesan di gunung slamet. Saya akan sangat merindukan rimbamu, juga kabut tipis di jurang-jurangmu, gunung slamet.

Jumat, 15 Maret 2013

lelucon tentang cinta


Senyap dan sepi, malam ini bergelas-gelas kopi kembali memenuhi dahaga pangkal lidahku akan rasa pahit. Rasa yang mengantarkanku pada imajinasi bebas yang melesat mamancar ke segala arah. Hingga akhirnya imaji itu meninggalkan goresan-goresan untuk kumaknai. Di sini, dalam keheningan malam. Seperti kopi yang masih meninggalkan rasa pahit di pangkal lidahku.

Seorang teman mengunjungiku malam ini, seseorang yang membawa banyak cerita untuk dibagi dalam keheningan malam. Dan aku menyediakan kopi untuk membebaskan dirinya malam ini. Kopi dengan rasa yang mencabik pangkal lidah hingga lidahnya lemas. Rasa itu membawanya terbang seperti burung, menatap semesta dengan caranya sendiri, setiap sudut tanpa terlewat. Seperti apa yang rasa itu selalu lakukan padaku.

Cerita-ceritanya malam ini berpangkal pada satu lelucon tentang cinta. Sebenarnya aku tak benar-benar mengerti apa itu cinta, dan mengapa pula aku menyebutkannya sebagai sebuah lelucon. Aku hanya ingin menertawakannya tanpa tau sisi mana yang lucu dari cinta. Kisah temanku ini, kisahku -yang ngga aku bagi-, dan mungkin kisah pecinta-pecinta lainnya di bumi ini. Mungkin letak kelucuan dari cinta adalah ketidakmengertianku tentang cinta, tapi aku begitu sok tahunya, dan bahkan berlagak menjadi orang yang paling mengerti tentang cinta. Padahal aku sama sekali tak mengerti apa itu cinta.

Temanku ini berkisah tentang hubungan-hubungannya yang terdahulu dengan perempuan-perempuan yang pernah mengisi cerita hidupnya dengan cinta. Rasa bahagia yang dibawanya, rasa sakit yang menyertainya, rasa bimbang yang bertaburan dimalamnya, dan ada banyak rasa lagi yang mengalir bersama aliran cinta. Satu hal yang aku mengerti akan cinta, ternyata cinta itu berbeda dengan kopi. Kopi hanya menyediakan rasa yang sama pada tiap teguknya, tapi cinta memiliki banyak rasa pada masing-masing tegukan. Dan kesemua rasa itu bersifat acak tanpa kita bisa memilihnya.

Seperti itukah cinta? Tak adakah rasa yang mampu menggambarkannya secara jelas?

Selanjutnya temanku ini bercerita tentang kisah percintaan yang sedang ia alami sekarang. Bagaimana ia berjumpa dengan seorang perempuan. Sebenarnya bukan pertama kali itu berjumpa dengan perempuan ini. Ia sudah lama mengenalnya. Namun hanya perkenalan yang hanya sebatas tahu, dan dulu ia hanya menganggap perempuan ini sebagai kenalan biasa. Hingga suatu hari, pada sebuah perjalanan yang tidak terduga, jalan takdir memperkenalkan mereka lebih dalam lagi. Dan sesaat setelah massa itu, temanku ini merasa ia telah jatuh cinta pada perempuan ini.

Saat ku tanya kenapa ia mencintainya, temanku ini hanya menjawab bahwa ia mencintai perempuan ini karena ia merasa nyaman saat bebincang dengan perempuan ini. Ia juga merasa kagum akan sifat-sifat perempuan ini yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Ia benar-benar menikmati rasa yang ia rasakan sekarang, rasa bahagia para pecinta yang sedang dimabuk asmara. Lalu, ketika datang sebuah massa ketika rasa nyaman itu menguap bersama putaran waktu dan perempuannya berubah mengikuti aturan jalan takdir yang tak pernah terduga, akankah masih ia mencintainya?

Hingga saat ini temanku ini masih belum menyatakan perasaanya, baik dalam bentuk pertanyaan, maupun dalam bentuk pernyataan. Saat ini, ia masih terlalu asik untuk menikmati rasa yang dibawa olehnya. Rasa yang terkadang justru membuatnya terjaga lebih lama dalam kegalauan. Menatap langit-langit kamar dalam keremangan malam, menahan rindu yang belum juga tersampaikan, mengutuk bibir yang belum mmengucap apa yang hatinya ingin ucapkan. Ia masih terlalu sibuk untuk merenda-renda khayalan, merangkainya menjadi harapan-harapan yang menguncup indah. Berbau semerbak harum.

Seperti itukah cinta? Lalu apa bedanya ia dengan obat-obatan terlarang yang membuat syaraf-syarafnya tetap terjaga sepanjang malam?

Ia bercerita padaku tentang bagaimana perempuan ini selalu bersikap spesial padanya. Pernah suatu hari perempuan ini meminjam pundaknya untuk bersandar dikala lelah. Temanku ini, senang bukan kepalang. Hingga malam ini, ia masih dengan semangatnya menceritakan kisah ini dengan detail sedetail-detailnya. Pernah suatu hari dalam sebuah perjalanan bersama perempuan ini -yang juga dengan teman-temannya-, ia meminjamkan kain sarungnya untuk melindungi tubuh perempuan ini dari terpaan angin. Hingga saat ini, mungkin sudah berminggu-minggu, ia berjanji untuk tidak mencuci kain sarungnya tersebut. Padahal menurut logikaku, logika orang waras tentunya, bau perempuannya itu sudah pasti akan tergantikan oleh bau apek yang umum muncul dari sebuah kain yang tak pernah dicuci. Ada banyak kejadian-kejadian antara temanku ini dengan perempuannya yang boleh jadi dianggap biasa saja olehku, mungkin juga oleh kalian, tapi entah pasal apa temanku ini bercerita dengan sangat semangatnya bahwa kejadian-kejadian itu adalah pertanda yang selalu membuat cintanya tumbuh semakin mekar. Dan lebih banyak lagi kata-kata yang terucap dari bibir perempuan ini yang selalu ditanggapi dengan impulsif oleh temanku ini yang menjadikanku  berpikir bahwa temanku ini lebih mirip sebagai mesin perekam suara.

Ia lupa bahwa orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu hari ia tak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.

Begitukah yang namanya cinta? Ia seperti sebuah fatamorgana yang menyesatkan para penjelajahnya yang sedang berusaha untuk memaknainya?

Saat ini aku bisa menertawakan itu semua sebagai sebuah lelucon yang memang pantas untuk ditertawakan. Pertanyaan-pertanyan yang hanya digunakan sebagai pemantas untuk olok-olokku akan kisah temanku yang sedang jatuh cinta ini. Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan lagi jawaban. Aku lupa bahwa aku pernah berada pada suatu massa seperti itu. Keadaan yang sama dengan temanku yang sedang jatuh cinta ini. Mencari banyak alasan untuk membenarkan perasaanku. Menatap langit-langit kamar sepanjang malam dengan tatapan kegalauan. Membiarkan hati menjebakku dalam sebuah kebahagian yang palsu. Aku pernah mengalami itu semua dulu. Jauh sebelum pemahaman baik itu datang.

Aku bisa menertawakan kisah itu karena sekarang aku berada pada sisi yang berbeda dengan temanku ini. Aku tidak lagi berada dalam keadaan yang sama seperti temanku ini. Aku telah berhasil keluar dari pemahaman tentang cinta yang mengotak-kotakannya pada rasa tertentu. Karena menurutku cinta itu tidak berasa. Tapi ia ada. Dan ia tak perlu alasan untuk menunjukan keberadaannya. Cinta hanya meninggalkan jejak-jejak untuk dimaknai keberadaannya. Jejak-jejak yang berupa kata kerja, bukan kata sifat.

Cinta itu ibarat mata air segar yang keluar dari dalam tanah, kita hanya perlu sesuatu yang cukup kuat untuk mengendalikannya. Menutupnya ketika dirasa cukup, atau mengalirkannya ketika kehausan. Seperti itulah cinta, ia hanya butuh hati yang kuat untuk mengendalikannya. Hingga ia tahu kapan waktunya merasa cukup, karena cinta itu tentang harga diri. Dan cinta yang tak sesuai takarannya hanya akan menariknya dari dunia logika. Cinta yang terkendali kemudian akan bisa dikonfersi menjadi sebuah energi positif yang akan membawanya naik tingkat pada tingkatan kedewasaan yang lebih tinggi lagi. Dan cinta yang seperti itu akan mendorongnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Cinta, cinta, cinta.... sampai sekarangpun aku belum benar-benar mengerti apa itu cinta. Tapi yang jelas, sekarang aku bisa menertawakan lelucon tentang pemahaman cinta orang-orang yang sedang mabuk asmara. Orang-orang yang tidak mampu mengendalikan perasaan cinta di dalam hatinya. Sekarang aku bisa menertawakannya, namun esok lusa mungkin aku akan kembali terjebak pada pemahaman seperti itu lagi. Apa yang aku fikirkan sekarang mungkin nantinya hanya akan menjadi sebuah omong kosong besar tentnag kemunafikan. Tapi esok biarlah takdir yang akan menjawabnya, aku hanya sedang berusaha untuk melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan sekarang. Aku akan berusaha untuk sekuat tenaga menjaga idealisme seperti ini. Dan aku sungguh-sungguh berdoa dari hatiku yang paling dalam agar temanku ini bisa mengerti akan makna yang bisa ia peroleh dari jalan takdir yang dipersiapkan padanya hingga ia mendapat pemahaman baru tentang cinta. Mungkin tak sama dengan pemahamku, tapi setidaknya suatu hari nanti ia bisa menertawakan pemahamannya tentang cinta di hari ini.

Rabu, 13 Maret 2013

Perjanjian Persahabatan


Segala yang telah dilalui, yang hari ini dilalui, yang akan dilalui di massa yang akan datang. Dalam keadaan apapun, baik suka maupun duka akan kita syukuri sebagai proses kehidupan yang membahagiakan. Kita berjanji untuk selalu saling menjaga sampai kapanpun dan apapun. Apapun yang menyebabkan perselisihan harus kita pikirkan dengan hati kita yang hebat dan kuat.

                                          Tertanda
                                           7 Januari 2013
 
          Angga       Yudha        Ayu     Ijul

 
 






                  


Sebuah Lelucon Kehidupan


Malam kian larut, bercampur dalam pekat yang gelap. Jiwa-jiwa lelah telah lama membaringkan diri dalam sebuah peristirahatan yeng mengantarkannya kepada alam mimpi. Berselimut dalam kehangatan yang melindunginya dari malam yang kian dingin saja. Begitu pula denganku, sudah saatnya aku menuju zona nyamanku, ruang 2x3 tempatku pulang dari kepenatan hidup. Tempatku untuk merenungi apa-apa yang sudah terjadi dan melelahkanku. Disini aku membagi cerita lewat rumah 14 inci ini...

Malam ini, entah kenapa tiba-tiba aku ingin kembali meneguk pahitnya kopi, merasakan sensasi rasa yang mncabik-cabik pangkal lidahku. Pahit dan kental. Dan memadukan rasa itu dalam gelap malam, kemudian mengaduknya dalam putaran makna. Panas dan dingin, bercampur menentramkan jiwa...

Aku menikmatinya, sebuah rasa yang terkadang diremehkan, bahkan lebih sering dibenci. Lewat bergelas-gelas ini aku mencoba menikmati rasa pahit. Aku memaknainya lewat kopi. Aneh memang, tapi begitulah aku, dan aku menikmatinya. Sampai-sampai ada beberapa teman kost yang hilir mudik keluar masuk kost mengomentari aku yang duduk di depan kost sendiri hanya dengan secangkir kopi. Seperti orang gila kata mereka, dan aku hanya tertawa menimpalinya. Memang mungkin begitulah pandangan orang-orang tentangku, tapi mau bagaimana lagi, aku menikmatinya. Karena aku sedang merindukan pahitnya secangkir kopi. Dan aku sedang ingin menikmatinya bersama malam, bukan karena galau atau sedih, aku hanya ingin menikmati secangkir kopi pahit. Itu saja. Sama halnya orang yang sedang ingin merokok atau ingin minuman alkohol, aku hanya sedang ingin menikmati kopi di antara malam ini.

Tandas sudah segelas kopi yang pekat ini menari-nari di atas lidahku. dan aku benar-benar puas. Aku bersiap menuju ruang 2x3 ku ketika teman kostku, si pria galau pulang. Ahhhh, alamat mulai menggalau ini kalu sudah duduk berdua begini di depan kost. Benar saja, berbagai topik cerita dan kisah tuntas dibahas dalam sesi malam ini.

Teman kost ku ini, aku menyebutnya si pria galau, karena terlalu seringnya kita membicarakan banyak hal tentang kegalauan masing-masing, lebih banyak dia tentunya...hehe. tapi, dia, pria galau ini satu frekuensi denganku, jadi apapun itu yang dibicarakan, walau kadang terlalu sok dewasa dan munafik tetap nyambung saja. Dan sebenarnya aku bisa berdiskusi dengan diriku sendiri lewat cerita-cerita yang kita bagi, meskipun hanya tersirat.

Secangkir kopi pahit yang telah habis tadi cukup untuk mengantarkanku pada diskusi galau dan idealis dengan si pria galau, teman kostku ini. Tema malam ini masih sama tentang perempuan yang sama yang membuatku menyematkan nama pria galau untuk temanku yang satu ini.

Malam ini kami membicarakan bagaimana tentang norak dan kampungan nya seorang pecinta yang sedang PDKT. Masa lalunya, juga masa laluku dulu. Malam ini, kita berdua menertawakan masa-masa itu...

Ia, si pria galau ini bercerita panjang lebar tentang kepecundangannya dia. Bagaimana ia hanya berani menyapa perempuannya lewat dunia maya, bukan dunia nyata. Saat-saat dimana ia merasa galau tingkat dewa ketika tidak bisa mengutarakan perasaannya. Dan masih banyak hal lagi yang menunjukan bagaimana norak dan kampungannya ia.

Sama halnya denganku, bukankah sudah kukatakan kalau aku dan pria galau ini satu frekuensi, jadi apa-apa yang ia critakan akan mempengaruhi ku juga, hingga akhirnya aku pun bercerita tentang kisahku dulu. Bagaimana noraknya aku dulu saat mealkukan PDKT.

Ya, dulu aku pernah berusaha untuk mendekati salah seorang perempuan. Ia memang manis, dan cantik. Itulah alasan utama yang membuatku tertarik untuk mendekatinya. Ia seorang mahasiswi kimia yang ikut dalam praktikum fisika dimana aku menjadi asistennya. Cerita konyol dan norak tentang seorang yang ingin PDKT pun dimulai dari sini...

Pertama aku menanyakan no telfonnya pada teman-teman dekatnya. Kemudian aku searcing jejaring sosialnya, dan proses norak itupun dimualilah. Entah apa yang memotifasiku untuk melakukan ini, yang pasti bukan cinta. Mungkin karena rasa iriku akan pasangan-pasangan kekasih disekitarku, dan aku ingin pula merasakan hal yang sama setelah begitu lamanya aku menjomblo. Ceritapun dimulai disini.

Aku mulai intens untuk mendekatinya, dari mulai sms, hingga chating dengannya di dunia maya. Berkirim pesan tiap pagi, membangunkannya ketika azan subuh. Terkadang aku heboh sendiri ketika mendapat balasan darinya, harap-harap cemas memikirkan ribuan kisah yang aku susun sendiri dalam dunia khayalku. Selalu bersikap berlebihan menanggapi hal-hal yang sebenarnya biasa. Bercerita kepada semua teman betapa bahagianya aku yang sedang jatuh cinta ini. Ah aku kadang tertawa sendiri ketika mengingat itu semua. Namun itu semua hanya di didunia maya, kerena kenyataan di dunia nyata, aku sama sekali tak pernah punya keberanian untuk menyapa nya. Pecundang, begitu aku menyebutnya.
Ya begitulah seorang pecinta ketika sedang mengalami proses itu. Terlihat kekanak-kanakan dan sungguh kalau boleh aku bilang, NORAK. Aku juga pernah mengalami itu semua, begitu pula dengan si pria galau tadi, dan boleh jadi para pecita di muka bumi ini. Namun tidak semuanya sebenarnya, karena masih banyak jiwa-jiwa idealis di luar sana yang berbeda dari pecinta kebanyakan. Ialah orang-orang yang mencintai bukan karena iri melihat orang lain memiliki pacar, atau karena olok-olok status jomblo. Ialah jiwa-jiwa yang tau apa-apa yang baik buat dirinya, bukan karena orang-orang disekitarnya, bahkan orang-orang yang tak dikenalnya. Aku sungguh mengagumi jiwa-jiwa seperti itu.

Malam ini, aku dan pria galau sedang menertawakan kisah kita masing-masing. Masa lalu itu memang sungguh memalukan, tapi aku tak pernah menyesalinya. Karena tanpa masa-masa itu aku takkan pernah bisa melangkah dalam tingkatan kedewasaan yang seperti sekarang ini. Belum dewasa memang, masih jauh dari kata itu. Tapi setidaknya aku bisa menertawakan masa yang sudah lewat itu, itu sebagai pertanda bahwa aku sudah naik ketingkatan yang lebih tinggi dari aku yang dulu. Banyak hal yang bisa aku pelajari dari kisah-kisah yang sudah lalu, itu lah yang terus menempaku dalam putaran waktu.

Dan yang aku sendari sekarang, mungkin memang masih terlalu banyak kekurangan yang aku punya, tapi setidaknya ada beberapa hal yang berubah jauh lebih baik dari dulu di dalam diriku ini. Seorang pecundang ini mungkin masih belum menjadi seorang pemenang, tapi setidaknya pecundang ini sedang berjuang menata hidupnya lewat idealisme-idealismnya. Setidaknya sekarang aku sudah bisa menertawakan kisahku dulu, bahkan kisah-kisah teman yang sedang dalam proses itu. Ada yang sedang galau jatuh cinta dan sedang proses PDKT, ada yang galau tentang status jomblonya dan iri melihat pasangan-pasangan kekasih disekitarnya, dan masih banyak hal-hal norak untuk ku tertawakan sekarang ini.

Dan sekarang, ketika aku jatuh cinta dengan seseorang, setidaknya aku tak se impulsif dan se drama dulu. Sebuah perasaan cinta adalah urusannya dengan dirinya sendiri. Tak harus diumbar dan diceritakan kepada semua orang, cukup dibagi dengan dirinya sendiri. Rasa itu berbunga dengan indah dari dalam, bukan karena melihat lingkungan sekitarnya, atau karena kebosanannya akan kesendirian. Rasa cinta itu sesuatu yang misterius yang harusnya bisa ia jaga dan kendalikan. Dan cinta itu kata kerja, bukan kata sifat, jadi tak seharusnya cinta membuatnya galau dan terpuruk, karena cinta itu seharusnya berupa kerja-kerja yang akan membahagiakannya dan mengisinya dengan energi positif yang meletupkannya menuju tingkatan kedewasaan yang lebih tinggi dari sekarang.

Tetnang perasaanku yang satu ini, aku tak berniat untuk membagikannya dengan siapa-siapa, bahkan dengannya, si pria galau. Aku hanya ingin menikmatinya sendiri, memaknainya hingga mengantarkanku pada tingkatan selanjutnya. Dan aku sedang berusaha mengontrolnya karena aku yang sekarang ini benar-benar tidak siap untuk menjalani apa yang orang sebut dengan pacaran (walaupun aku kemarin dengan nekatnya -ceroboh- menyatakan perasaan itu kepadamu gadis kecil). Dan aku benar-benar bersyukur karena kau tak membalasnya, karena aku memang benar-benar belum siap untuk itu. Aku hanya bisa naik sedikit dari kepecundanganku dulu. Ada masih banyak hal yang harus aku perbaiki sekarang.

Mungkin terdengar idealis, tapi memang begitulah aku sedang berusaha sekarang, menjadi seorang idealis. Persetan dengan olok-olok mereka akan kesendirianku saat ini, karena aku memang jauh dari siap sekarang ini. Hidupku ya hidupku ini, aku jauh lebih mengerti akan hidupku ini dari pada orang-orang yang mengolok-olokku itu, kuanggap mereka sebagai angin lalu dan lelucon yang harusnya aku tertawakan.

Pria idealis ini sudah punya caranya sendiri untuk hidup. Dan ia sedang berusaha untuk menjadi dirinya sendiri hingga mencapai apa yang disebut dengan aku. Berusaha merealisasikan idealismenya. Ada bnyak hal yang harus diperbaiki dalam dirinya, dan ketika saatnya nanti tiba, ketika ia benar-benar siap takdir akan membimbingnya kedalam cerita yang mungkin sama sekali tak pernah ia duga. Dalam sebuah cerita yang berjudul aku. Cerita yang mengantarkan aku kedalam kisah tentang cinta bersama perempuan yang membawa sebagian tulang rusukku. Aku benar-benar percaya akan hal itu. Sekarang, aku hanya berusaha untuk melakukan apa yang terbaik yang bisa aku lakukan.

Apakah kau percaya bahwa kau bisa mengubah takdir? Jawabanku tidak, aku hanya bisa melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan, hingga kemudian takdir itu yang akan datang dengan sendirinya kedalam kehidupanku.

Untuk secangkir kopi hitam yang telah mengantarkan sebuah rasa yang berhasil mencabik-cabik pangkal lidahku. Kerinduan yang tertuntaskan.
Untuk si pria galau yang telah berhasil naik tingkat.
Dan untuk semua pecinta-pecinta yang sedang menjalani proses yang benar-benar norak. Esok hari kalian akan menertawakan kisah-kisah kalian hari ini, begitu pula aku yang mungkin entah kapan nanti akan menertawakan kisahku hari ini. Waktu akan membimbing kita semua dalam tingkatan kedewasaan yang lebih tinggi dari sekarang ini.

Minggu, 03 Maret 2013

Aku Cinta Negeri Ini


Pulang kembali ke kota ini setelah 2 hari bertualang di hutan dengan disambut gerimis yang benar-benar membuat ngantuk. Rasa lelah yang tertimbun rasa-rasanya sudah siap untuk dibongkar di atas pembaringan ini. Tapi rasa senang yang sudah menumpuk tinggi ini rasanya tak cukup bahkan untuk di gelar menutupi bumi ini. Karena semua kesenangan 2 hari ini benar-benar keren...

Dua hari kemarin aku baru saja menjelajah hutan bukit tritis, sebelah selatan gunung merapi. Sebenarnya untuk urusan menjelajah hutan itu sudah menjadi hal yang biasa buatku, yang tidak biasa adalah menjelajah hutan sambil melakukan pengamatan terhadap burung-burung yang ada di dalamnya. Ya, dua hari kemarin adalah pelantikan anggota KPB Bionic, sebuah ukmf yang bergerak dibidang pengamatan burung. Sebenarnya menjadi anggota bionic bukan tujuan utamaku, yang terpenting adalah meraup pengalaman sebanyak-banyaknya, terutama dalam hal pengamatan burung.

Selama ini, aku cuma mengagumi alam secara umum. Seperti gunung, sunrise, sunset, atau pantai. Saat penjelajahan alam (naik gunung), aku cuma menikmati suguhan panorama yang dihidangkannya. Berjalan sambil berucap syukur menikmati pemandangan luar biasa di depan sana. Sekarang, ada hal lain lagi yang bisa aku nikmati selain itu semua, yaitu burung-burung yang berdiam di dalamnya.

Ada banyak hal yang sangat keren dari penjelajahan kemarin. Menerobos hutan yang heterogen dengan beraneka biotanya. Jalan sempit yang jauh berbeda dari jalan-jalan di pendakian gunung. Dan yang paling penting adalah saat menemukan jenis burung yang warna-warni. Selain itu, penjelajahan kemarin juga menambah pengetahuanku tentang anggrek hutan, mumpung penjelajahan sama anak-anak biologi, menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya.

Dan yang paling berkesan dari semua itu adalah bagaimana belajar menggunakan binokuler. Semacam teropong yang digunakan untuk melihat objek-objek yang letaknya jauh. Awal menggunakan bino, canggungnya bukan main. Ada burung yang jelas-jelas ada di atas ranting pohon pinus, setelah dilihat menggunakan bino si burung tadi entah berada di mana. Tapi, lama kelamaan semakin terbiasa, dan ketika berhasil melihat burung menggunakan bino, benar-benar keren. Apalagi pas berkesempatan melihat jenis burung yang bagus.

Penjelajahan kemarin aku berkesempatan untuk melihat dua burung yang benar-benar keren. Hari pertama aku mendapatkan betet biasa. Salah satu burung berparuh bengkok yang punya warna hijau dan orange, pokoknya keren. Dan yang paling membuatku terkesan adalah aku berkesempatan melihatnya saat bereada di ranting pohon dengan sangat anggunnya. Dan aku berhasil melihatnya dengan jelas menggunakan binokuler. Sementara teman-teman yang lain hanya berkesempatan melihat kepalanya, karena burung betet tadi keburu masuk sarangnnya di pohon mati diseberang jurang. Hari kedua aku berkesempatan meyaksikan pertunjukan burung sepah gunung dengan warna merahnya. Dan yang paling keren adalah ketika burung itu terbang bergerombol kemudian hinggap di pucuk pohon hutan pinus dan aku berhasil mengekernya dengan binokuler. Meskipun jaraknya jauh, dan di binokuler kadang terlihat tidak begitu jelas tapi itu semua tak menutup keindahan burung itu.

Masih banyak jenis burung-burung lain yang belum sempat teridentifikasi, meskipun sebagian juga sudah bisa terkeker menggunakan binokuler. Ada banyak jenis burung di bukit triris itu, dan perlu perjuangan ekstra untuk bisa menikmati keindahan itu menggunakan bino, terutama bagi para amatiran sepertiku ini. Tapi apapun itu, selama masih mau belajar pasti ada jalan. Dan aku benar-benar menikmati melakukan pengamatan burung kemarin.

Yang masih menjadi minatku adalah burung-burung predator seperti elang. Kemarin hanya berkesempatan melihat mereka bermanufer dengan eloknya di atas langit, masih belum terlalu jelas. Apalagi saat menggunakan binokuler, burungnya dimana, ngekernya kemana. Masih butuh banyak latihan dalam menggunakan binokuler.

Kesempatan seperti itu, berjumpa dengan hal-hal baru, mendapatkan banyak pengetahuan baru. Hal-hal seperti itulah yang benar-benar aku nikmati. hidup yang aku idam-idamkan. Seperti quotes yang disampaikan salah satu teman kemarin, bedakan antara kerja dan pekerjaan, kerja adalah hal yang membuatmu tetap hidup, dan pekerjaan adalah hal yang memembuatmu bertahan dalam kehidupan ini. Pekerjaanku nanti mungkin entah akan menjadi apa, tapi kerjaku nanti adalah untuk hidup seperti yang sudah aku idam-idamkan. Meraih cita-citaku untuk menjelajah tiap inci alam indonesia ini beserta kehidupan masyarakatnya.

Dan aku berjanji bukan hanya sebagai penikmat, tapi juga penjaga alam indonesia ini. 1600 jenis burung di negeri ini, 17% jenis burung di dunia. Karena aku mencintai alam indonesia ini. Dan cinta adalah kata kerja, bukan kata sifat. Karena itulah ia menuntut tindakan-tindakan kita untuk membuktikan cinta tersebut. Dan aku akan membuktikan rasa citaku ini, meskipun hanya terbatas pada lingkungan-lingkungan disekitarku, orang-orang disekitarku. Aku tak percaya pada slogan-slogan, karena cinta itu tak bberujung di mulut saja, butuh banyak karya untuk membuktikan keberadaannya. Melalui hal-hal kecil, setidaknya aku bisa membuktikan itu. Terdengar idealis memang, tapi aku hanya sedang mencoba untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk negeri tercintaku ini.

Untuk gunung-gunung yang menjulang tinggi,
untuk hutan-hutan yang tertutup belukar,
untuk pohon-pohon besar yang menutupi mentari,
untuk bunga-bunga yang bermekaran di dalamnya,
dan untuk burung-burung beraneka warna yang berkicau merdu menyanyikan nyanyian alam.
Untukmu indonesia, aku dan kamu.

Pohon Perasaan


Dulu sekali, aku pun tak ingat kapan. Aku pernah memiliki benih pohon melon. Benih yanhg aku dapat dari liburan di madiun, di rumah paman. Sebenarnya aku tak begitu suka melon, tapi aku sangat bersemangat untuk menanam benihnya.

Setelah sampai di rumah kembali, aku tak menunggu lama untuk menanam benih tersebut di depan halaman rumah. Membayangkan bisa menikmati melon dari pohon melon yang di tanam sendiri sungguh sangat membuatku bersemangat.

Benih itu aku tanam di daerah yang rindang, yang terlindung dari cahaya matahari langsung, seperti saran dari paman. Tiap sore aku menyiraminya, merawatnya. Bahkan memberinya sedikit pupuk, untuk menambah nutrisinya.

Waktu berlalu, dan benih itu telah tumbuh menjadi pohon melon yang bagus. Aku sungguh senang saat melihatnya. Aku sungguh sudah tidak sabar lagi untuk menikmati buah melon dari pohonnya langsung.

Waktu kembali berlalu, mulai tumbuh bunga, kemudian lama kelamaan bunga tersebut berubah menjadi buah yang masih kecil. Ah, menatapnya saja membuatku kembali bersemangat. Aku sunggguh bahagia ketika melihatnya. Aku bersemangat, dan aku kembali merawat pohonnya sebaik yang bisa kulakukan.

Namun, ternyata kenyataan berkata lain. Memang kadang kenyataan itu dengan teganya menghianati harapan yang sudah disusun matang-matang. Kenyataaan itu menjatuhkan mimpi yang sudah disusun sedemikian rupa. Pohon melon yang aku rawat setiap hari dengan sangat baik tiba-tiba layu, kemudian mati.

Aku melapor kepada ayah dengan sesenggukan, bahwa pohon melon yang aku rawat setiap hari itu telah mati. Dan ayah berkata sambil tersenyum, membelai rambutku, bahwa sudah seharusnya pohon itu mati. Karena pohon melon hanya bisa tumbuh dengan baik di daerah dataran tinggi, sementara daerahku merupakan dataran rendah dengan udara panasnya. Ayah memberi pengertian padaku bahwa sebaik apapun aku merawat pohon melon itu, akhirnya pohon melon itu akan tetap mati. Ia hanya menunggu waktu saja untuk mati, ia tak akan berbuah seperti di rumah paman yang notabennya adalah dataran tinggi. Dan untuk menghiburku kemudian ayah membelikanku buah melon. Tentu saja aku yang masih kecil waktu itu langsung lupa perihal pohon melon yang mati.

Sekarang, ketika aku mengenang kejadian itu, ada sebuah pemahaman yang terbawa bersama berlalunya waktu dan kejadian. Bahwa pohon melon itu seperti sebuah perasaan.

Ya, sebuah perasaan yang kita tanam di dalam hati kita. Perasaaan suka, cinta, atau sayang sekalipun. Kalau memang ia bukan jodoh kita, sebaik apapun kita merawatnya ia tak akan pernah berbuah. Ia hanya menunggu waktu untuk layu, kemudian mati. Kita tak bisa memaksakan perasaaan, yang bukan jodoh kita untuk berbuah.

Mungkin perasaan itu bisa membahagiakan kita, ketika melihatnya tumbuh inci demi inci. Namun kalau memang bukan jodohnya, suatu hari pasti perasaan itu akan layu dengan sendirinya, kemudian mati. Hanya bekas layunya yang tersisa di dalam lahan hati kita, bahkan terkadang meninggalkan luka di sana.

Namun, apabila sudah jodohnya. Entah benih itu terbang oleh angin atau terbawa musim dan dengan tidak sengaja jatuh kedalam lahan hati kita. Atau ada orang lain yang membawakan benih itu kepada kita. Benih itu akan tumbuh dengan sendirinya, meskipun tak pernah kita menyiraminya, merawatnya. Tapi ia akan tetap tumbuh, dan ketika kita menyadarinya pohon itu telah berbuah. Karena pohon itu cocok dengan lahan di hati kita. Itulah yang namanya jodoh.

Perasaan itu memang seperti itu. Perasaan tetaplah perasaan. Suatu waktu kita memang pernah suka dengan seseorang, tapi kita tak bisa memaksakan perasaan itu. Kalau memang berjodoh, perasaaan itu akan menemukan jalannya sendiri, dan ketika kita sadar perasaaan itu telah berbuah lebat membawa kebahagiaan.

Maka itu, tak usahlah sibuk mencari cintalah, mencari pacarlah. Karena ketika memang jodohnya, ia akan menemukan jalannya sendiri dengan cara yang tak pernah dibayangkan dunia. Karena itulah, alangkah baiknya jika kita seharusnya menyiapkan diri kita, menyiapkan lahan dihati kita untuk suatu hari itu. Melihat luasnya dunia, meraup pelajaran hidup sebanyak-banyaknya agar lahan di hati kita menjadi lahan yang subur, dan apa bila tiba suatu hari itu, benih itu akan tumbuh dengan subur tanpa kita sadari.

Dan aku benar-benar menunggu akan saat-saat itu, menungguku bukannya tanpa usaha. Usahaku adalah bagaimana memperiapkan diri untuk hari itu. Menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sekarang. Kalupun ada pohon yang tumbuh di dalam hati ini, biarlah ia tumbuh dengan sendirinya. Ketika aku sudah siap, kita lihat esok akan menjadi apa?

Pesan Sang Waktu


Sebuah hari telah berlalu lagi. Kini pagi tlah datang membawa hari yang baru dalam suasana khidmat bertabur kabut. Pagi ini juga membawa kesadaran baru bagiku, bahwa aku kini telah berganti status dari mahasiswa menjadi seorang sarjana.

Rasa-rasanya baru kemarin aku mengikuti serangkaian kegiatan pendaftaran dan penyambutan kampus, tapi sekarang sudah harus menerima kenyataan bahwa aku bukan lagi seorang mahasiswa dengan semua kenyamanannya. Waktu melesat begitu cepat.

Ya, rasanya tak ada status yang lebih nyaman dari menjadi seorang mahasiswa. Walaupun banyak tugas menumpuk, kadang kiriman bulanan telat atau secukupnya, makan juga jauh dari pola sehat, romansa yang acak dan tak tentu arah, tapi entah kenapa menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kenyamanan yang sangat. Kalau setiap mahasiswa mau membuka matanya sedikit lebih lebar, saat-saat menjadi mahasiswa adalah saat dimana pembelajaran akan kedewasaan berlangsung. Kita ditempa dalam suatu keadaan untuk menjadi dewasa, kalau kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian, niscaya ada banyak hal yang bisa menjadi alasan untuk kita bisa dibilang dewasa. Walaupun aku juga tak benar-benar tau kriteria dewasa itu seperti apa.

Namun, sekali lagi. Waktu melesat begitu cepat. Ia dengan teganya menarikku jauh melesat meninggalkan masa-masa itu. Tapi begitulah memang waktu, ia berputar tanpa mau tau keadaan kita. Karena ia punya caranya sendiri untuk berputar dalam arah.

Tapi, memang begitulah tugas dari waktu. Ia akan membawa kita pada keadaan-keadaan selanjutnya, kisah-kisah yang berbeda. Kadang senang, kadang pula menyakitkan. Tapi, apapun itu, waktu sebenarnya selalu berhasil mengajari kita banyak hal agar kita tetap bisa tumbuh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun, kadang ada saja sebagian orang yang terlalu bebal untuk mengerti pesan yang disampaikan oleh waktu.

Suatu waktu, kita hanya bisa menangis di pangkuan orang-orang terkasih. Berucap tanpa kata,berkehendak tanpa penyampaian. Tapi kemudian waktu membawa kita kemasa-masa yang lain, saat kita akhirnya bisa berucap. Kata papa atau mama. Waktu mengajari kita bagaimana menggunakan bahasa.

Di suatu waktu yang lain, kita hanya bisa merangkak. Berusaha menggapai-gapai mainan di atas meja. Tapi, di masa yang lain waktu kembali membawa kita ke masa dimana kita bisa berlari sepuasnya dan mengambil apapun benda yang ada di atas meja, ataupun benda yang lebih tinggi sekalipun. Karena waktu mengajari kita bagaimana cara berjalan, melompat, dan berlari.

Ya, begitulah waktu. Ia berputar membawa kita kepada keadaan-keadaan yang baru, kisah-kisah yang berbeda dari sebelumnya. Sama halnya saat aku lulus SMA dulu, aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana hidup dalam lingkungan yang baru, jauh dari lingkungan keluarga yang selalu melindungiku. Tapi, nyatanya sekarang, aku begitu nyaman dengan keadaan ini. Keadaan dimana aku bertanggung jawab pada diriku sendiri, bagaimana caranya menjadi diri sendiri.

Sekarang ini, sama halnya seperti masa-masa lulus SMA dulu, akupun merasa bagitu takutnya menghadapi kehidupan selanjutnya. Dimana aku harus berpisah dengan kenyamanan menjadi seorang mahasiswa, berpisah dengan sahabat-sahabat terbaik, menanggung tanggung jawab yang jauh lebih besar dari pada sebelumnya, dan yang pasti bertanggung jawab akan gelar sarjana yang aku punya sekarang.

Dan aku benar-benar benci akan pertanyaan 'setelah sekarang mau kemana?'.

Tapi, sama sepeti masa-masa sebelumnya. Waktu pasti akan kembali membawaku jauh ke keadaan yang tak pernah kubayangkan. Ia akan mengajari banyak hal, membawa banyak kisah berbeda. Aku percaya itu.

Sama halnya dengan seorang pesakitan yang akhirnya bisa berdamai dengan masa lalunya, karena waktu akan selalu menyembuhkan. Tapi ia tak hanya menyembuhkan, tapi juga mengajari banyak hal hingga akhirnya seorang pesakitan itu telah menjelma menjadi seorang petualang yang bijak. Petualang kehidupan.

Seperti kisahku ini, akupun yakin waktu akan membawaku bertualang dalam kisah-kisah yang berbeda. Waktu akan mengajariku banyak hal. Tapi sekali lagi, kita sendiri lah yang menjalani kehidupan ini, waktu hanya sebagai katalis yang membantu perjalanan kita. Apapun pilihannya, kita sendiri yang memutuskan.

Aku yakin, pada suatu massa waktu pasti akan menyelesaikan tugasnya, mengajari kita banyak hal. Tapi cepat atau lambatnya, kita sebdiri yang memutuskan. Itulah pilihan yang harus kita ambil. Pesakitan tadi, mungkin butuh waktu puluhan tahun untuk menjadi seorang petualang bijak, tapi sebenarnya ia bisa saja menjelma menjadi seorang petualang bijak hanya dalam hitungan bulan. Semua pilihan ada padanya.

Waktu pasti akan membawaku pada kisah selanjutnya yang berbeda, mengajariku banyak hal. Tapi cepat atau lambatnya perjalanan itu, aku sendiri yang menentukannya. Sekarang ini, aku mungkin memang masih dalam keadaan transisi, tapi aku yakin waktu pasti akan membawaku pada kisah yang baru. Mungkin bisa cepat, mungkin bisa bertahun-tahun. Itu semua pilihanku sendiri. Dan aku harus jadi kuat untuk bisa memilih.

Waktu memang akan menyembuhkan segala luka,  waktu memang akan menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Tapi cepat atau lambatnya, kita sendiri yang menentukan.